JOURNAL,  PERSONAL

Patah Hati di Usia yang Tak Lagi Belia

Bulan Juni lalu hubunganku resmi bubar jalan setelah pacaran selama 4 tahun 2 bulan. Wow..Rasanya? Krenyes-krenyes! Potek hati adek bang! Haha.. Sebenarnya udah yakin untuk mengakhiri hubungan dan mempersiapkan hati sedemikian rupa, udah bergumul banget juga sekian lama, tapi tetap dong sedih ketika keputusan udah diambil.

Di usia tak lagi belia ini (tahun ini aku 30 tahun), ga mudah ketika harus mengakhiri hubungan yang keliatannya udah serius banget melangkah menuju pernikahan. Tapi karena satu dan lain hal, harus banget berakhir. Mungkin aku cerita di lain waktu, karena jujur masih bertanya-tanya dalam hati apakah etis untuk share ke kalian alasan putus. Berasa kaya youtuber-youtuber yang bikin konten: Alasan Kami Putus!

Intinya kami putus bukan karena bertengkar, selingkuh, atau masalah pribadi. Kami merasa baik-baik aja walau mungkin kenyataannya nggak begitu. Lebih karena faktor eksternal, yang mungkin kalian bisa tebak sendiri. Orang-orang terdekatku tau banget sih alasannya kenapa.

Di awal putus rasanya asing karena terbiasa ada dia, setiap hari komunikasi dan bisa cerita apa aja, share feeling suka dan duka dengan berbagai jenis emosi yang muncul. Empat tahun bukan waktu yang sebentar loh, banyak banget kejadian yang dilalui bareng-bareng,udah berjuang sama-sama sampai sejauh ini.

Belum lagi dengar komentar orang-orang yang kurang empati: Ya ampun, sayang banget empat tahun jagain jodoh orang! What?? Kenapa harus ada istilah jagain jodoh orang sih? Kaga terima ini aku! Mamaku hibur dengan bilang: Anggap aja empat tahun ini kamu punya sahabat baik yang care dan sayang ~~ Okey mak, mantul!

Syukurnya sebulanan sebelum putus udah nggak komunikasi lagi, jadi nggak yang kaget-kaget amat tiba-tiba dia ngilang. Adalah nangis beberapa hari, normallah ya..Tapi harus buru-buru stop karena dateline tesis nggak bisa nunggu sama sekali. Kocar kacir banget memang, tangan kiri ngelap air mata, tangan kanan ngetik tesis. #okeyinilebay

Sempat bertanya-tanya sama Tuhan, kenapa pada akhirnya Dia menutup pintu ini, why He said NO!? Kenapa sih nggak dipermudah aja dan semua akan baik-baik saja. Apa lagi ini, kenapa harus susah-susah sih? Kalau harus putus kenapa butuh waktu lama banget sih? Ini aku gimana harus mulai lagi dengan pria lain, astaga magerrr Tuhan,,,

Perlu kalian tau beberapa tahun terakhir hubunganku sama Tuhan udah nggak sekaku dulu, protes ya protes aja hahahaha.. Banyak nanya sama Tuhan di sebulanan diam-diaman itu sih, banyak doa mauNya Tuhan tu apa, ko dia kaya bercanda gitu dengan hidupku. Pada akhirnya selalu tiba pada satu kesimpulan: PUTUS! He is not the one! Dan Tuhan tau yang terbaik untuk masa depanku.

Satu perasaan yang mendominasi selain sedih adalah: LEGA. Jujur lega banget akhirnya keputusan itu final dan hidup akan memasuki fase yang baru lagi. Lega karena keluar dari drama dan bisa fokus lagi menata hidup, excited karena berpotensi mendapat pria lain yang lebih oke LOL Iya dong, patah hati harus bahagia setelah melalui masa-masa sedih.

Dalam perenunganku aku banyak disadarkan bahwa hidupku milik Tuhan, Dia tau bagian-bagian terbaik dari masa depanku dan Dia ingin sekali aku hidup sesuai rencanaNya. Supaya aku memperoleh kebahagiaan yang sejati, supaya aku bisa enjoy dan growing dalam kehidupan pernikahan nantinya. Aku memilih percaya dan nggak curiga ke Tuhan, karena nggak mungkin banget Dia merencanakan yang jahat.

Yeremia 29:11. Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Kalau ditanyakan, apakah aku menyesal menjalani hubungan empat tahun ini, aku rasa nggak ya. Aku nggak menyesal pernah ada dalam hubungan ini, karena ada banyak hal positif dan negatif yang kualami, yang kusadari menjadi modal untukku bertumbuh semakin dewasa. Hubungan selama empat tahun ini menjadi salah satu konteks kehidupan yang membawaku sampai sejauh ini. Lalu untuk apa aku sesali?

Sekarang lebih fokus untuk memulai fase yang baru, menyelesaikan studi, bekerja sembari membuka diri seluas-luasnya terhadap pertemanan. Let’s see Tuhan mau rencanain apa ke depannya.

So Excited, Yay!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *