JOURNAL,  PERSONAL

How God Gave Me My Dream Job!

Sejak lulus sidang tesis, pertanyaan yang sangat familiar di telingaku adalah: selesai dari sini mau kemana? Apa rencana berikutnya? Pertanyaan yang wajar banget nggak sih?

Tapi jujur kalau ditanya begitu aku selalu bingung mau jawab apa, karena aku ko nggak minat kemana-mana ya hahaha.. Awalnya berpikir mungkin aku lelah banget setelah melalui berbulan-bulan yang cukup sulit selama tesis, jadi masih overwhelm dengan itu semua.

Sempat kepikiran mau pulang kampung dululah sebulan, refreshing dari semua kepenatan 2019 ini, ntar mulai perjalanan baru di 2020 aja.. Lalu sadar itu nggak mungkin, ongkos pulang mahal banget, ortu juga baru aja dari Jakarta untuk hadir di wisudaan, jadi harus segera kerja untuk kelangsungan hidup di kota besar ini.

Akhirnya bener-bener gumulin lagi, sebenarnya mau apa, ngapain, dimana? Pikir-pikir dan doain, kembali renungin visi pribadi dan panggilan yang membawaku kuliah lagi, dan nemu! Aku sadar kalau sebenarnya aku bukan nggak minat kemana-mana, cuma berusaha meredam impian karena merasa ga mungkin 😀

Bagi yang belum tau, aku kuliah S2 pastoral konseling. Lulusan kami biasanya melayani sebagai konselor gereja, sekolah Kristen, yayasan Kristen, dan ada juga sih yang kembali ke profesi sebelumnya, tapi ini dikit banget.

Nah, aku minatnya justru ke marketplace, corporate, lembaga training, intinya bukan lembaga Kristen. Karena dari dulu aku lebih terpanggil untuk melayani dan bekerjasama dengan orang-orang dengan berbagai suku, budaya dan agama. Jadi apa yang kukerjakan dapat dinikmati oleh siapapun, dan jangkauannya lebih luas.

Tapi rasanya mustahil aja ada perusahaan yang nerima konselor Kristen, jadi berhenti berharap (manusiawi) 😀 Malah ada yang menyarankan jadi HRD aja, tapi ntar dibarengi dengan konseling gitu. Ada yang nyaranin juga kembali ke pekerjaan lama. Tapi aku ga ngerasa itu solusi, jadinya ya terus menunggu, doain, tapi tetap gelisah karena masih bingung harus kemana. Bener-bener manusia biasa yang terkadang lemah dan khawatir akan hari esok LOL

Kenapa aku ga langsung mau aja sih mempertimbangkan pekerjaan yang jelas-jelas lebih memungkinkan ada dan bahkan lebih pasti bisa secepatnya berkarya? Ngapain nunggu yang ngga pasti, malah bikin galau.

Jelas, karena aku anaknya keras kepala dan ngotot. HAHAHA Mohon maaf bukan sombong, tapi aku memang langsung ngga berminat dengan hal-hal yang aku rasa nggak sesuai dengan panggilan dan passionku.. Positifnya, aku sabar menunggu dalam ketidakpastian asal tetap pada tujuan, daripada mengambil kesempatan yang jelas ada tapi membawaku menjauh. Ngerti kan maksudnya?

Sembari menunggu, aku terus berdoa apa yang Tuhan inginkan, kemana Dia mau bawa aku? Sampai di titik berserah dan ikut aja maunya Tuhan, kemanapun! Tetap percaya kalau Dia tuh udah pasti sediain satu tempat terbaik untukku bisa berkarya dengan efektif. 

Sampai suatu pagi, aku lagi sarapan di asrama kampus dan ngobrol dengan salah satu dosen. Lagi-lagi ditanya, kemana setelah ini? Aku orangnya jujur-jujur aja, langsung jawab masih bingung dan nggak minat kemana-mana hahaha. Eh eh, si bapak malah nanya: “kalau corporate berminat ga?”. Langsung dengan sumringah aku jawab dong: ” Ya ampun pak, saya mah ga minat kemana-mana justru karena pengennya cuman ke corporate, tapi kan ga ada pak corporate terima lulusan kita,”. 

Duh ternyata hari itu Tuhan jawab doa-doaku, si bapak info ada corporate yang mau rekrut lulusan kampusku untuk jadi konselor di perusahaan mereka. Super excited dan aku langsung cek websitenya dan lihat emang ada lowongan yang job descriptionnya adalah hal-hal yang memang aku suka kerjakan. 

Situasinya saat itu aku masih revisi tesis, belum wisuda, dan belum ada ijazah. Jadi aku tunda dulu untuk melamar, fokus persiapan wisuda dulu. Setelah wisuda, aku cek lagi websitenya. Walah, lokernya ilang dong, uda ga ada di website. Langsung chat adminnya, dan bener, posisi itu uda ada yang isi. Lemes..Kecewa sama diri kenapa nunda sihhh…

Beberapa hari kemudian ketemu lagi dosen tersebut, dan bilang situasi terbaru. Si bapak rada ga percaya, karena jelas-jelas perusahaan ini sedang butuh banget konselor. Singkat cerita aku harus keluar dari asrama dan kos, jangan lupakan status pengangguran dan pekerjaan impian yang berlalu begitu saja  😀

I am Erika, 30 years old, with no man, no money, no job LOL Aku jalanin status begini selama dua minggu, yang pada akhirnya kusadari sebagai 2 minggu istirahat yang aku harapkan sebelumnya. Tuhan baik..

Ternyata si bapak ngga tinggal diam, bener-bener follow up perusahaannya. Si bapak telepon aku di suatu siang dan kasih tau kabar kalau ternyata perusahaan ini masih butuh banget konselor, tapi menutup lowongan karena udah berharap konselornya dari kampusku aja. What? Aku kaget sekaligus seneng bangett yaampun.. Say thanks to God..

Akhirnya aku komunikasi dengan pihak perusahaan, kirim CV, wawancara HRD, wawancara user, dan diterima. Prosesnya cukup cepat karena kebutuhan emang lagi mendesak. Terharu banget, dua Minggu dari wisuda udah ada tempat melayani.

Btw ini perusahaan yang bergerak di bidang boothcamp programmer gitu, jadi mereka adain kelas-kelas boothcamp untuk melatih siapapun bisa jadi programmer. Programnya sendiri berkisar 4.5-6bulan, jadi singkat banget kan. Banyak yang stress, nggak survive dan emang sesulit itu jadi wajar kalau mereka membutuhkan pertolongan, salah satunya konseling.

Di kantor lagi-lagi takjub sih, bener-bener aku bilang sama Tuhan: “Godddd, kantor ini aku bangetttt,”. Gimana nggak, isinya millennials semua, dengan atasan pun berasa teman, lingkungannya menyenangkan dan positif, aku bebas pakai baju casual, dan tugasku bener-bener yang aku passionate banget.

Aku kaya ngerasa ini pekerjaan yang seolah-olah disediakan khusus untukku haha.. Karena cocok banget dan berasa nggak kerja tapi melakukan apa yang disukai. Sebelumnya aku nggak pernah membayangkan sama sekali ada pekerjaan sejenis ini, mungkin mainku dan bacaku kurang jauh… Lalu tersadar dan malu karena udah khawatir selama ini soal pekerjaan.

Anyway, perusahaan ini cukup baik karena udah menyadari pentingnya mental health, jadi mereka menyediakan layanan konseling dan engineering empathy. Aku ditugasin dua tanggungjawab besar itu, yaitu mengajar kelas engineering empathy dan konseling terhadap student boothcamp.

Mengajar dan konseling emang uda hal yang rasanya aku banget, dan I’m sooo happy with this. Aku enjoy mempersiapkan materi mengajar, berada di kelas dengan peserta boothcamp yang usianya juga beragam, dan konseling pribadi dengan mereka yang butuh didengarkan atau sesederhana diingatkan bahwa mereka butuh istirahat.

Aku ingat banget perkataan salah satu rekan kerja di Medan dulu, denger lagi di salah satu kata sambutan di wisuda, diingatkan lagi di momen Christmas Carol kemarin: “Erika, orang tidak akan peduli dengan gelarmu, mereka butuh hatimu dan kehadiranmu,”.   

Dan terbukti sih, di kantor, klien-klienku ga peduli aku lulusan darimana, gelarku apa, yang mereka tau aku ada untuk dengerin mereka. Dan aku happy dengan itu semua. I find my life so meaningful right now..

Ga henti-hentinya bilang: terimakasih Tuhan udah kasih kesempatan mengerjakan pekerjaan impianku”. Aku janji mengucap syukur dengan hidup lebih baik ke depannya. Ampuni kalau sempat khawatir soal pekerjaan, padahal Tuhan sudah berjanji selalu menyediakan yang terbaik.

Dari perjalanan mendapatkan kesempatan bekerja sesuai dengan passion, kesimpulan yang aku renungkan adalah: Tuhan sudah mempersiapkan yang terbaik untuk setiap anak-anakNya, bagian kita adalah mempersiapkan diri sebaik-baiknya, mencari tahu kehendak Tuhan sehingga tidak menghabiskan waktu untuk menjauh dari rencanaNya..

Semoga sharingku memberkati kalian yang mungkin sedang mencari pekerjaan, atau masih study dan apapun yang kalian lakukan sekarang, lakukanlah sebaik-baiknya..

Terimakasih.. Tuhan Memberkati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *