JOURNAL,  PSYCHOLOGY

Kesiapan dan Respon Mental Terhadap Pandemi

Gambar ini sudah seliweran di medsos sejak beberapa waktu lalu, dan menurutku sangat bagus untuk memberikan kesadaran di posisi mana nih diri kita saat ini? Apakah di zona ketakutan, zona belajar atau sudah masuk ke zona bertumbuh? Karena aku yakin posisi masing-masing orang pasti berbeda.

Setelah sekitar 1,5 bulan #dikosaja #dirumahaja jujur aku masih terus berusaha melakukan penyesuaian demi penyesuaian. Masih harus terus berusaha membuat ritme hidup yang paling sesuai dan seimbang selama masa pandemi ini. Karena ritme ini sangat berpengaruh kepada kesehatan mental nggak sih?

Aku sadar banget kesiapan mental setiap orang untuk menghadapi pandemi ini sangat beragam, ada yang siap dan tentu banyak yang tidak siap. Dan menurutku itu sangat wajar, karena pengalaman dan pembentukan yang dialami masing-masing orang juga berbeda-beda.

Aku yakin masih ada yang berada di zona ketakutan, serba borong, forward info tanpa disaring lebih dulu, serba bingung dan ketakutan harus bagaimana menghadapi virus yang wujudnya kasat mata ini. Wajar banget sih, namanya menghadapi keadaan yang sangat asing dan baru, ngga semua orang siap diperhadapkan dengan kejutan hidup seperti ini

Seiring berjalan waktu, sebagian orang mulai berada di zona belajar. Stop sebar berita nggak jelas sumbernya, belajar menerima keadaan dan menyesuaikan diri sebaik mungkin. Kita semua melalui fase ini, fase menyelamatkan pikiran dan perasaan diri sendiri terlebih dulu. Fase berusaha lebih tenang dan mampu atur strategi menghadapi pandemi

Kalau sudah berhasil mengatasi diri sendiri, barulah mampu memasuki zona bertumbuh. Ketika fokus diri bukan lagi tentang aku dan aku, tetapi bagaimana diri ini bisa berdampak bagi sekitar. Tidak harus besar, mungkin sekecil berterimakasih untuk pertolongan orang lain, menebarkan aura positif dan semangat, membantu orang sekitar yang membutuhkan, dan terlalu banyak hal yang bisa dilakukan sebenarnya.

Tapi ingat, kuncinya adalah menguasai pikiran dan perasaansendiri untuk tidak hanya fokus pada keakuan, sehingga energimu bisa dibagikan untuk kebaikan orang lain juga

Tidak semua orang berhasil sampai di zona bertumbuh, mungkin stagnan di zona ketakutan atau zona belajar. Tapi sungguh tidak ada kata terlambat, semua masih dalam proses penyesuaian. Lakukan evaluasi dan pikirkan hal baru apa yg bisa dilakukan supaya keadaanmu berubah

Semua orang masih terus bergerak di ketiga zona ini, kamu di zona apa?

Kiita semua perlu mengevaluasi di zona manakah kita saat ini dan memikirkan hal baru apa yang harus dilakukan untuk mengubah keadaan

Tapi satu pesan yang sering sekali kukatakan kepada banyak orang termasuk diriku sendiri akhir-akhir ini: “don’t be so hard on yourself”, jangan terlalu keras pada diri sendiri!

Ini keadaan yang sangat berat dan sebenarnya bisa bertahan aja sudah sangat baik. Tapi kalau bisa lebih, kenapa tidak?

Lakukan sesuai kemampuan, lakukan sesuai kapasitas. Kalau memang hanya mampu bertahan untuk diri sendiripun, tidak apa-apa.. Itupun sudah menolong banyak pihak. Intinya adalah bertahan

Bahkan kalau masih terus di zona ketakutanpun, terimalah keadaanmu, selanjutnya jangan diam dan segera carilah pertolongan. Sharing dengan keluarga, sahabat atau bahkan psikolog, psikiater dan konselor

Tapi hidup jangan sekedar dijalani tanpa pernah ditinjau ulang ataupun direncanakan. Berhenti pada posisi tidak pernah mengevaluasi diri dan hidup bukan tindakan bijaksana bukan? Socrates bilang: “An unexamined life is not worth living”

Kita nggak akan pernah sadar kalau ternyata perilaku kita tidak sesuai kalau tidak pernah ditinjau ulang. Sebaliknya, akan banyak kekayaan dan kenikmatan hidup yang manis dapat kita rasakan secara mendalam kalau kita terus belajar mengevaluasi ๐Ÿค—

Sekali lagi, evaluasi posisi diri kita saat ini dan lakukan apapun sesuai kapasitas. Kalau hampir tidak mampu bertahan lagi, cari pertolongan. Kalau hanya mampu untuk bertahan untuk diri sendiri, it’s okay, jangan merasa bersalah yang tidak perlu๐Ÿ˜Ž

Tuhan Memberkati ๐Ÿ™‚

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *