PSYCHOLOGY

MENGENALI GEJALA SHOPAHOLIC

Berbelanja itu menyenangkan bagi kebanyakan orang karena bisa menjadi cara melepaskan diri dari kejenuhan menjalani rutinitas. Tapi, jika belanja sudah membuat seseorang kecanduan, hati-hatilah, karena itu berarti ada yang tidak beres dengan kondisi psikisnya.  

Anda pernah melihat orang yang merasa dirinya harus belanja setiap saat, dan setelah memborong hampir seluruh isi toko sampai di rumah belanjaan itu kadang hanya disimpan begitu saja di lemari tanpa dibongkar, seolah tak ada bekas sedikit pun gairahnya yang tadi menyala-nyala saat di pertokoan?

Bila ya, maka kenalan atau famili Anda itu boleh dicurigai mengalami gangguan kejiwaan yang disebut pecandu belanja (compulsive shoppers), yang secara populer sering disebut shopaholic; mirip dengan workaholic (kecanduan kerja) yang mencontek sebutan alcoholic bagi orang yang kecanduan alkohol.

1. Defenisi Shopaholic
Shopaholic adalah kata yang berasal dari shop yang berarti belanja, dan aholic yang menandakan bahwa kebiasaan ini adalah suatu ketergantungan terhadap hal yang dilakukan dengan sadar atau tidak. Menurut Oxford Expans (dalam Rizka, 2008) dikemukakan bahwa shopaholic adalah seseorang yang tidak mampu menahan keinginannya untuk berbelanja dan berbelanja sehingga menghabiskan begitu banyak waktu dan uang untuk berbelanja meskipun barang-barang yang dibelinya tidak selalu ia butuhkan. Mungkin muncul pertanyaan dihati Anda, bagaimana gejala-gejala seseorang yang mengalami shopaholic?

2. Gejala-Gejala Shopaholic

Perlu diketahui bahwa tidak semua orang yang suka berbelanja atau pergi ke mall dapat dikatakan shopaholic. Menurut Klinik Servo (2007), seseorang dapat dikatakan mengalami shopaholic jika menunjukkan gejala-gejala sebagai berikut:
1.    Belanja membuat seseorang sangat bergairah, tapi kemudian mendatangkan perasaan bersalah, gelisah, atau depresi.
2.    Seseorang merasa didesak untuk membeli sesuatu yang tidak dibutuhkan atau tidak dapat dimanfaatkannya.
3.    Banyak barang yang telah dibeli tidak dipakai atau dimanfaatkan, bahkan label harganya pun masih tergantung pada barang itu.
4.    Orang tersebut berbohong atau menyembunyikan belanjaannya.
5.    Belanja mengganggu pekerjaan atau merusak hubungannya dengan keluarga dan teman-teman.

3.Dampak Shopaholic
Shopaholic dapat mengakibatkan berbagai dampak yang merugikan yaitu:
  • Sering mengalami kehabisan uang padahal masih awal bulan.
  • Dapat mengakibatkan seseorang memiliki hutang dalam jumlah yang besar karena untuk memnuhi pikiran-pikiran obsesi untuk berbelanja dan berbelanja.
  • Dapat mengakibatkan seseorang dipecat dari pekerjaannya karena melakukan pemborosan dengan menggunakan uang perusahaan.
  • Memicu seseorang untuk melakukan tindak kriminal (seperti mencuri, memeras,korupsi dll) hanya karena ingin mendapatkan uang demi memenuhi dorongan untuk belanja yang terus-menerus dalam dirinya.
  • Dapat mengakibatkan perceraian karena pasangan dari si penderita shopaholic merasa tersiksa dengan uang yang selalu dihabiskan pasangannya hanya untuk berbelanja dan berbelanja.
  • Dapat mengakibatkan pertengkaran karena pemborosan yang dilakukan oleh penderita shopaholic.
  • Dapat mengakibatkan seseorang bunuh diri karena dalam dirinya selalu muncul pikiran-pikiran obsesi untuk berbelanja dan berbelanja dan si penderita merasa tersiksa jika tidak melakukan pikiran-pikiran obsesinya tersebut.
Dampak dari shopaholic memang sangat merugikan bagi kehidupan seseorang bahkan dapat mengancam keselamatan dirinya sendiri dan orang lain. Apakah hanya perempuan saja yang mengalami shopaholic, karena perempuan sering dijuluki kaum yang suka shopping?
4. Siapa yang berpotensi mengalami Shopaholic?
Menurut penelitian dikemukakan bahwa 90% penderita shopaholic adalah perempuan, namun laki-laki juga mengalami shopaholic. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Stanford University mengatakan bahwa laki-laki juga mengalami shopaholic. Dengan demikian, perempuan dan laki-laki dapat menderita shopaholic. Barang-barang apa saja yang sering dibeli oleh perempuan dan laki-laki yang mengalami shopaholic?  Perempuan yang mengalami shopaholic akan lebih suka untuk membeli pakaian, make-up, perhiasan, sedangkan laki-laki akan lebih suka membeli barang elektronik seperti HP, MP3 Player, dll. Dan mereka umumnya punya alasan yang sama: belanja untuk membangun rasa percaya diri atau menghilangkan stres/depresi. 

5. Penyebab

Mungkin saat ini, Anda sedang bertanya-tanya apa penyebab seseorang mengalami shopaholic? Menurut Klinikservo (2007), ada beberapa penyebab seseorang mengalami shopaholic, yaitu:
  • Gangguan kecanduan belanja ini umumnya berkaitan dengan masa kanak-kanak yang tidak bahagia. Biasanya karena merasa ditolak oleh orangtua, kurang diperhatikan, dan tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Oleh karena itu, ada kalanya para pecandu belanja membelikan banyak barang bagi anak-anaknya, supaya tidak mengalami seperti mereka dulu
  • Seseorang menganut gaya hidup hedonis (materialis) dan mempersepsi bahwa manusia adalah human having. Human having adalah seseorang yang cenderung mempersepsi orang lain berdasarkan apa yang dimiliki (seperti punya mobil, rumah, jabatan). Human having ini akan mengakibatkan seseorang merasa terus kekurangan, selalu diliputi kecemasan, tidak akan termotivasi untuk mengejar kebutuhan pada tingkat yang lebih.
  • Kecemasan yang berlebihan karena mengalami trauma di masa lalu.
  • Iklan-iklan yang ditampilkan diberbagai media yang menggambarkan bahwa pola hidup konsumtif dan hedonis merupakan sarana untuk melepaskan diri dari stres.
  • Adanya pikiran-pikiran obsesi yang tidak rasional.
Apakah shopaholic merupakan salah satu bentuk gangguan psikologis? Shopaholic merupakan salah satu bentuk dari gangguan obsesif kompulsif. Gangguan obsesif kompulsif adalah suatu gangguan psikologis yang ditandai dengan adanya pikiran-pikiran obsesif (pikiran-pikiran yang selalu berulang-ulang menghantui seseorang untuk melakukan suatu perilaku tertentu) dan adanya perilaku kompulsif (perilaku yang selalu dilakukan berulang-ulang, tetapi jika tidak dilakukan maka seseorang akan merasa tersiksa). Penderita obsesi kompulsif sebenarnya merasakan bahwa apa yang dilakukannya tidak rasional namun dirinya tidak mampu mengontrol kebiasaan yang dilakukannya tersebut.
Menurut e-media (2007), seseorang yang mengalami gangguan obsesif kompulsif akan menunjukkan beberapa gejala-gejala yaitu merasa tertekan oleh pikiran-pikiran obsesi yang muncul dari dalam dirinya, melakukan perilaku kompulsif secara berulang-ulang untuk meredakan rasa tidak nyaman yang dirasakannya, selalu merasa cemas, dll.
 6. Solusi Mencegah dan Mengatasi Shopaholic
Adapun cara yang dapat dilakukan adalah:
  1. membuat perencanaan keuangan,rencanakan pemasukan dan pengeluaran uang serta buat anggaran itu untuk diri sendiri.
  2. Membuat daftar kebutuhan, tulislah kebutuhan primer terlebih dahulu baru kemudian kebutuhan-kebutuhan yang lain.
  3. Shopaholic dapat diatasi dengan CBT (Cognitive Behavioral Therapy) dan terapi relaksasi. CBT akan membantu penderita untuk mengatasi pikiran dan perilakunya yang tidak rasional dan mencegah penderita untuk melakukan kebiasaan belanja secara terus-menerus. Selain itu, terapi relaksasi berguna untuk membantu mengurangi kecemasan dan membantu penderita untuk rileks dalam menghadapi pikiran-pikiran obsesinya yang muncul. Penderita Shopaholic juga perlu dilatih untuk membedakan antara keinginan dan kebutuhan sehingga hal dapat mulai mengontrol kebisaan belanjanya yang tidak rasional.
7. Kesimpulan
Shopaholic merupakan kebiasaan berbelanja barang yang bukan kebutuhan, dan merasa cemas setelah melakukannya.
Ada banyak tanda-tanda orang yang mengalami shopaholic dan ada biasanya mereka menutupi kegiatan belanja mereka.
Dampak shopaholic dapat berujung dengan keadaan terlilit hutang, dan biasanya hal tersebut tidak mengurangi kebiasaan belanja para shopaholic.
Laki-laki dan wanita memiliki potensi yang sama untuk mengalami shopaholic, walaupun kita bisa melihat bahwa wanita cenderung lebih banyak mengalami shopaholic dibanding pria.
Ada banyak faktor penyebab shopaholic, diantaranya pengalaman masa lalu, hedonisme, dan pengaruh iklan di media massa.
Cara mencegah dan mengatasi shopaholic adalah dengan membuat perencanaan keuangan dan daftar kebutuhan, dan dapat diatasi dengan CBT (Cognitive Behavioral Therapy) dan terapi relaksasi.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *