ARTICLE,  CHRISTIANITY

Jangan Melupakan Tuhan dalam Perencanaan ( Yakobus 4:13-17)

 

Dalam menjalani kehidupan kita sering membuat perencanaan mengenai hal-hal yang akan kita lakukan ke depan,  yang tak jarang menimbulkan pertanyaan dalam diri kita, apakah rencana yang kita buat ini sesuai dengan kehendakNya Tuhan? Apa betul rencana-rencana ini untuk kemuliaan Tuhan? Atau malah sebaliknya? Menjadi kepentingan diri saya sendiri dan dunia ini? Memang membutuhkan perenungan dalam diri kita dengan Tuhan untuk mengetahui akan hal ini.

Perikop ini berbicara mengenai suatu perencanaan yang pada umumnya dibuat oleh seseorang dalam menjalani kehidupannya, karena setiap orang ingin berhasil dan jauh dari kegagalan. Manusia juga tidak bergerak dengan insting, namun akal budi dan pikiran sehingga membutuhkan perencanaan hidup. Oleh karena itu secara praktis bagian ini sangat penting dalam kehidupan kita sebagai orang percaya, sekaligus mengingatkan kita tentang apa yang sebenarnya sudah kita ketahui namun sering sekali kita lupakan dan abaikan, yaitu bahwa hidup kita ini tidak sepenuhnya berada di dalam kontrol kita, di dalam kekuasaan kita, khususnya masa depan.

Manusia diciptakan sesuai gambar dan rupa Allah sehingga mempunyai kreatifitas, memiliki willl (keinginan dan dorongan) serta memiliki banyak sekali kemampuan. Ada orang-orang yang dilahirkan dengan memiliki banyak sekali kemampuan dan bakat, serta potensi luar biasa yang dapat dikembangkan. Semakin besar bakat dan kemampuan seseorang, semakin tinggi self confidence atau rasa percaya diri dalam dirinya. Sebaliknya mereka yang kurang beruntung, sejak kecil dalam fase anal mereka ini sudah menjadi anak yang ragu-ragu, tidak confident atau percaya diri sehingga sangat bergantung kepada orang lain, baik kepada orang tua dan anggota keluarga lainnya, teman-teman, dan bahkan mungkin kepada pasangan setelah mereka dewasa. Anehnya dari dua tipe yang berbeda ini mereka mengalami persoalan yang mirip yaitu natur dosa yang mendorong mereka untuk separated with God atau menjauhkan diri dari Allah, dan membangun diri sendiri sesuai keinginan masing-masing.

Dalam Alkitab terdapat bagian-bagian yang berbicara secara praktikal, salah satunya kitab Yakobus. Kitab Yakobus adalah surat yang dikirim oleh Yakobus yaitu saudara Yesus, kepada orang Yahudi yang sebagian besar adalah orang Kristen Yahudi di perantauan, yang ternyata pada saat itu mengalami penganiayaan. Ketika Tuhan izinkan sebuah penderitaan terjadi, tentu Tuhan punya maksud tertentu, dan seharusnya mereka yang mengalami penderitaan tersebut datang untuk mencari Tuhan. Tapi Yakobus melihat dari awal suratnya bahwa orang Kristen Yahudi pada saat itu tidak mencari Tuhan, termasuk orang-orang yang dimaksudkan dalam pasal 4 ayat 13-17 ini, para businessman atau pedagang yang tentu kehidupannya jauh lebih baik dibandingkan para Yahudi lain yang pada umumnya berprofesi petani, sehingga hidup mereka yang aman membuat mereka mempunyai agenda sendiri yang sangat confident.

Tidak ada tanda bahwa Yakobus tidak menyetujui profesi pebisnis/pedagang, yang dinasihatinya adalah sikap mereka yang dianggap begitu percaya diri dan congkak. Bagaimana membangunkan kesadaran para pedagang tersebut untuk tidak hidup sesuai dengan kehendak masing-masing dan melupakan Tuhan dalam rencana hidup mereka? Kehidupan yang berhasil membuat mereka congkak lupa bahwa Tuhan berkuasa atas kehidupan manusia. Bacaan yang kita baca memberikan gambaran bagaimana seharusnya sikap seseorang dalam membuat perencanaan kehidupan di dalam Tuhan.

Apa sebenarnya yang menjadi masalah dalam hal ini? Mereka adalah orang Kristen, mengapa mereka tidak mengingat Tuhan dalam membuat rencana hidup mereka? Ternyata ini adalah masalah mengenai Knowing God, pengenalan akan Tuhan yang merupakan sebuah misteri yang sangat sulit dipahami oleh kita manusia bahkan sampai saat ini kita yang hidup di era modern, anggota jemaat termasuk para majelis yang sudah melayani di gereja juga sulit memahami ini. Yang terjadi adalah mereka merasa dan berasumsi sudah mengenal Tuhan karena mereka memiliki tingkah laku rohani yang sudah mereka lakukan misal kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pelayanan di gereja.

Mereka tidak menyadari bahwa hal ini lebih kepada religiusitas yaitu kebutuhan kita sebagai manusia yang bersifat spiritual being, ada kebutuhan untuk menyembah Tuhan dan beragama. Seperti fase-fase iman dalam kekristenan yang diusulkan oleh James Fowler dan dijelaskan oleh pak Yakub Susabda dalam bukunya “Mengenal dan Bergaul dengan Allah”. Bahwa ada orang-orang tertentu yang ke gereja karena lahir di keluarga Kristen, atau mulai berpikir menyenangkan berada di gereja, dia mulai merasa menemukan identitas di gereja dan dia suka dengan budaya di gereja. Ada yang sudah mulai terlibat dalam aktivitas gereja, mulai ikut PA, paduan suara, persekutuan, tapi mereka belum pernah berjumpa secara pribadi dengan Allah. Jika kita melihat, barangkali para businessman di dalam surat Yakobus ini adalah orang yang mengaku Kristen, namun belum mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan. Sehingga mereka Kristen tapi masih terus mengandalkan pemikiran dan rencana sendiri.

Ketika Yakobus menuliskan surat ini kepada mereka, apakah mereka mengerti apa maksudnya? Belum tentu mereka semua bisa mengerti. Mereka hidup dalam kenyamanan dan perasaan mampu yang membuat mereka sulit untuk mengingat Allah dalam rencana-rencana hidup mereka. Mungkin saja ketika surat ini dibacakan kepada mereka, sebagian dari mereka sekedar tersinggung dengan isi surat Yakobus, kesal, tapi tidak mengalami perubahan. Sebab seperti yang ditulis dalam Matius 13 mengenai perumpamaan seorang penabur, ada beberapa jenis tanah yang ditaburkan benih, ada benih yang jatuh di pinggir jalan, lalu burung datang dan memakannya sampai habis, sama seperti sebagian businessman ini, mereka mendengar dan langsung lupa ketika itu juga. Ada pula benih yang jatuh diatas tanah yang berbatu-batu, benih itu segera tumbuh, tetapi setelah matahari terbit, layu karena tidak berakar, sebagian dari mereka mungkin mendengar dan mengerti, lalu begitu ada masalah dalam hidup maupun bisnis, mereka kembali lupa dengan firman tersebut. Sebagian lagi jatuh di semak duri, tumbuh lalu mati dihimpit semak duri tersebut, dimana sebagian dari mereka mungkin menyukai firman itu, menyukai hal rohani, tetapi juga tetap hidup dalam dosa. Tidak mungkin firman hidup bersama dengan dosa, begitu mereka mulai bertumbuh, dosa semakin menghimpit mereka. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat dan tiga puluh kali lipat, mereka yang seperti ini mendengar dan kemudian melakukan firman Tuhan.

Contoh tentang seseorang yang memiliki agenda sendiri adalah kisah dalam Lukas 12:13-21 mengenai perumpamaan orang kaya yang bodoh, dimana ia berencana untuk merombak lumbungnya dan mendirikan yang lebih besar, dan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangnya, lalu kemudian bersenang-senang karena ia sudah menimbun banyak sekali harta. Menyimpan gandum merupakan kejahatan ekonomi yang serius di zaman itu, karena harga gandum akan naik dan mengganggu kestabilan ekonomi pedesaan dan menyebabkan mereka menderita. Kebodohan petani kaya tersebut adalah karena ia tidak memperhitungkan bahwa hidupnya merupakan “pinjaman” dari Allah, dan ia tidak bersiap diri untuk menghadapi krisis yang tak terduga, yang akan datang “pada malam itu juga”. Baginya, kekayaan yang berlimpah menjadi sumber prestise dan rasa aman (security) yang terpisah dari Allah.  Yakobus mengatakan dalam ayat 14 “hidupmu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Hal ini menunjukkan betapa hidup manusia sangat singkat, sehingga tidak seharusnya manusia lebih fokus pada perkara-perkara dunia yang bersifat sementara.

Contoh orang kaya yang bodoh di atas adalah realita yang juga banyak sekali terjadi sekarang ini. Tentu timbul pertanyaan dalam hati kita, apa tidak boleh akhirnya kita berusaha untuk mengejar banyak hal dalam hidup ini? Sudah menjadi budaya dalam generasi millennials saat ini, kita harus terus mengejar ketertinggalan, kita memiliki striving for power, striving for superiority, keinginan untuk diakui, keinginan untuk menjadi seorang yang tercatat dalam sejarah secara khusus dalam kekristenan, keinginan untuk dikenal oleh orang banyak dan menjadi berkat, menjadi pembicara yang besar mungkin, atau konselor-konselor yang luar biasa dipakai Tuhan, penulis buku best seller. Apakah itu salah? Apakah itu nggak boleh? Bukankah semua itu Tuhan ijinkan supaya kita bisa menjadi blessing/ berkat bagi orang banyak? Betul Tuhan mengijinkan kita untuk melakukan semua itu, tapi sebetulnya tidak selalu kita melakukannya dengan memiliki motivasi kekekalan walaupun kelihatannya kita melakukannya untuk pelayanan. Ada saat-saat dimana kita melakukannya untuk agenda kita sendiri, tanpa ada Allah yang terlibat di dalamnya.

Apa yang dapat kita pelajari dari bagian ini? Teryata manusia sagat sulit sekali untuk mempercayakan diri kepada Tuhan, termasuk bagi orang-orang yang sudah menyerahkan diri sebagai hamba Tuhan dan konselor Kristen. Tapi kita sendiri tetap waspada dan sulit konsisten dengan itu, kita masih sering membuat rencana-rencana sendiri. Dan bahkan secara psikologis kita sering mencari dukungan dari Firman Tuhan yang memang mendukung. Rencana kita itu sendiri seringkali memakai sarana melayani Tuhan. Misalnya saja seseorang menyadari bahwa dalam profesi yang lain dia kurang mampu atau tidak akan menjadi pusat perhatian, namun sebagai hamba Tuhan ia setiap minggu didengarkan oleh siapapun, orang sekaya dan terhormat sekalipun mendengarkan dia. Sering sekali kita tidak menyadari bukan bahwa motivasi yang ada dalam diri kita sungguh tidak murni.

Salah seorang teman pernah bercerita bagaimana ia berusaha mengelak dan melarikan diri dari apa yang Tuhan rencanakan. Ia mengumpamakan dirinya seperti belut yang begitu licin dan sulit ditangkap oleh Tuhan. Hal apa sih yang membuat kita selalu ingin berkelit dan lari dari Tuhan? Karena dalam keberdosaan kita, walaupun kita memilih dan memutuskan memberi diri dan hidup kita sebagai hamba Tuhan dan konselor Kristen, kita belum sepenuhnya bisa memberikan kontrol kepada Tuhan atas hidup kita. Kita masih memberikan penawaran-penawaran kepada Tuhan mengenai keputusan-keputusan, rencana-rencana hidup kita. Kita masih ingin memilih dan memutuskan sendiri apa yang terbaik untuk kita. Ketika Tuhan mulai menyatakan rencananya, sering sekali kita bertanya. Mengapa begitu sulit Tuhan? Aku mau Tuhan pakai, tapi tidak  harus seberat ini kan Tuhan? Dan banyak pertanyaan-pertanyaan dalam batin kita yang sebenarnya sebagai bentuk protes kita kepada Tuhan.

Bagaimana solusi dari kondisi tersebut? Apa yang harus kita lakukan untuk memperbaiki diri?

Pertama, kita harus jujur di hadapan Tuhan bahwa sering sekali motivasi kita salah dalam melayani Tuhan, sering sekali kita memasukkan agenda pribadi kita melalui pelayanan-pelayanan yang kita kerjakan.

Kita secara jujur meminta kepada Tuhan supaya Ia memurnikan motivasi kita dalam mengerjakan apapun juga, dalam melayani Dia sebagai hamba Tuhan maupun konselor Kristen, sehingga ketika kita berkhotbah, menulis buku, konseling, semua itu kita lakukan tidak untuk investasi pribadi kita, tapi untuk menjadi berkat dan kemuliaan untuk Tuhan saja. Kita harus jujur kepada Allah, karena dalam kejujuran kepada Tuhan terdapat keterbukaan untuk perubahan, terdapat kerendahan hati untuk dimurnikan oleh Tuhan.

Jadi apa artinya menggantungkan diri kepada Tuhan? Apakah dengan doa? Dalam berdoa saja bisa menjadi formalitas kosong. Dengan memiliki kesadaran ini saja, kita belum tentu bisa lepas merdeka dari dosa dan mengubah kita menjadi seseorang yang motivasinya selalu benar di hadapan Tuhan. Apa yang harus dilakukan?

Kedua, yaitu secara sengaja saya harus meminta Tuhan untuk menyelesaikan dosa yang setengah saya sadari.

Apa maksudnya setengah disadari? Yaitu mengetahui hal-hal yang baik, ada di dalam pikiran tetapi belum di dalam batin, tahu tapi tidak bisa melakukannya seperti yang dinyatakan dalam ayat 17. Sebab dosa bukan hanya masalah tidak melakukan yang jahat, tetapi dosa juga adalah mengetahui yang baik tetapi tidak melakukannya, dosa juga adalah menahan diri untuk melakukan kebaikan-kebaikan.

Dengan kondisi ini, apakah kita harus mandek? Berhenti dulu, menunggu “beres” dulu baru melangkah kembali melayani dan menjadi berkat bagi orang lain? Tentu saja tidak, kita masih terus rentan untuk jatuh ke dalam dosa, tetapi kita sudah memiliki sebuah kesadaran yang baru bahwa Allah menginginkan kita untuk mati terhadap dosa, kita harus memiliki sikap hati yang benar dalam memandang dosa.

Ketiga, kita harus melibatkan Allah dalam seluruh rencana hidup kita.

Dalam menyusun seluruh perencanaan hidup kita, hendaklah kita meminta Allah turut andil di dalamnya. Biarlah semuanya disusun sebagai hasil dari kedekatan kita dengan Allah, seluruh perencanaan hidup kita, adalah hasil persekutuan yang intim dengan Dia. Dengan demikian, kita melibatkan Dia dalam setiap agenda yang kita miliki. Janganlah kiranya kita melupakan Dia sebagai pemilik hidup kita, karena sungguh tanpa anugerah Tuhan untuk hidup pun kita tidak layak.

Pada saat menggumulkan panggilan hidup, saya merasa bahwa saya terus menerus berusaha memberikan opsi-opsi kepada Tuhan seolah saya tahu apa yang terbaik untuk masa depan saya. Merasa sangat berat untuk memberi diri menjadi konselor Kristen, mencoba beberapa alternatif yang lain tapi rasanya Tuhan menutup jalan. Saat saya mencoba membaca kembali “my life plan” yang saya tulis di tahun 2014, saya melihat bahwa ada banyak impian saya yang ternyata motivasinya tidak lebih dari pencapaian, harkat martabat dan harta dunia. Walaupun pada saat membuat life plan tersebut nuansanya sangat Kristiani, menuliskan visi misi hidup yang seolah sangat jelas dan bertujuan untuk melayani Tuhan dan banyak orang. Tapi hati saya tidak bisa berbohong bahwa sebagian besar yang saya tuliskan tujuannya adalah kesejahteraaan dan pencapaian diri saya.

Ketika saya memberikan diri untuk dipersiapkan Tuhan menjadi konselor Kristen dan melangkah dengan iman menuju kampus STTRI, saya melihat bagaimana Tuhan bekerja dalam hidup saya secara luar biasa. Dia menyediakan begitu banyak pengalaman spiritual yang saya tidak pernah bayangkan sebelumnya, saya semakin mengenal diri dan merasakan pertumbuhan di tempat ini. Kesulitan dan pergumulan memang banyak dalam menjalani panggilan Tuhan, namun semakin berat justru penyertaan Tuhan semakin terasa dan nyata, yang terus memotivasi saya untuk bertahan dan berjuang sampai akhir. Walaupun demikian, sebagai manusia berdosa saya masih harus terus bergumul di hadapan Tuhan untuk belajar mempercayakan hidup seutuhnya di tangan Tuhan. Belajar untuk melibatkan Tuhan dalam perencanaan-perencanaan kehidupan yang saya akan jalani ke depan.

Tentu kita memiliki sebuah keyakinan dan iman yang sama, bahwa Tuhan merencanakan yang terbaik untuk kehidupan kita. Mari terus mengalami Tuhan dan memiliki persekutuan yang intim dengan Dia, yang terus menerus akan menghasilkan rencana-rencana hidup yang berkenan padaNya. He Gives Us Stories..

 

Sincerelly Yours,

Erika Hotmaulina Sinaga

 

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *