ARTICLE,  PSYCHOLOGY

COMMUNICATION IN MARRIAGE: WHAT THE OTHER REALLY MEANS?

Dalam buku The Mirages of Marriage dituliskan bahwa komunikasi merupakan salah satu komponen pernikahan yang paling penting. Berikut satu kutipan yang menarik mengenai komunikasi yang diutarakan dalam buku tersebut:

People in our culture believe that the most important communications are spokens or written. This view is erroneous, because everything which a person does in relation to another is some kind of message. The is no NOT communicating, even silence is communication. Thus one of the greatest difficulties in communication between individuals is recognizing what the other person really means.

Saya setuju dengan pernyataan di atas, memang segala sesuatu yang dilakukan pasangan satu sama lain adalah bentuk komunikasi yang menyampaikan pesan tertentu. Namun sering sekali terjadi konflik dalam komunikasi karena pesan yang disampaikan dimaknai berbeda oleh pasangan, sehingga menimbulkan kesalahpahaman dalam hubungan karena menginterpretasikan pesan dalam konteks yang berbeda. Pasangan tidak dapat menangkap apa yang sebenarnya ingin disampaikan, dan menginterpretasikannya sesuai dengan konsep yang ada dalam pikirannya.[1]

Rebecca M. Goldberg juga menyampaikan hal yang sama, bahwa kesalahan dalam komunikasi memang muncul karena adanya kesenjangan antara apa yang dimaksudkan dengan persepsi pendengar, karena persepsi pendengar menentukan apa yang ditangkap olehnya, dan sering sekali tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya dimaksudkan. Kondisi ini terjadi secara timbal balik, sehingga semakin sulit untuk dapat memahami pesan satu sama lainnya.[2]

Beberapa peneliti dan terapis keluarga menegaskan bahwa komunikasi merupakan salah satu elemen inti dari kepuasan pernikahan, jadi masalah dalam komunikasi dapat menjadi pemicu permasalahan yang serius. Penelitian menunjukkan bahwa lebih dari setengah pernikahan yang gagal dipicu oleh rendahnya komunikasi diantara pasangan, karena tanpa kemampuan komunikasi yang baik, sangat sulit untuk membangun sebuah pernikahan yang bertumbuh.[3]

Norman Wright menjelaskan mengapa kondisi ini bisa terjadi, bahwa setiap manusia memiliki bahasa yang berbeda dengan pengertian yang berbeda pula pada setiap kata-kata, jadi kalau setiap orang tidak mendefenisikan kata-katanya dengan jelas, asumsi dan salah pengertian kemungkinan besar akan terjadi. Jadi kita tidak boleh menyimpulkan bahwa apa yang kita sampaikan sama dengan pengertian yang ditangkap oleh pasangan, sebaliknya apa yang kita tangkap dari isi pembicaraan dengan pasangan belum tentu sama dengan apa yang dia maksudkan. Kedua belah pihak harus menyadari bahwa ada kemungkinan miscommunication yang terjadi dengan pesan yang disampaikan satu sama lain.[4]

Dalam kondisi yang berbeda, ada kalanya diri kita sendiri maupun pasangan sedang tidak memahami apa yang disampaikan sehingga komunikasi semakin runyam dan pesan semakin sulit sampai dengan benar.  Salah satu kunci dalam membangun komunikasi yang baik dengan pasangan adalah masing-masing harus mengerti dengan jelas pesan apa yang ingin disampaikan sehingga penyampaian pesan tersebut tuntas dan tidak menimbulkan salah pengertian. Faktanya sering sekali dalam berkomunikasi, masing-masing pun tidak memahami dengan jelas apa yang dia maksudkan, kondisi apa yang sedang diutarakan dan apa yang diharapkan. Ahli komunikasi mengatakan bahwa ketika berbicara dengan orang lain ada enam pesan yang mungkin muncul: [5]

  1. apa yang ingin Anda sampaikan
  2. apa yang kenyataannya Anda sampaikan
  3. apa yang didengar orang lain
  4. apa yang dianggap orang lain dia dengar
  5. apa yang dikatakan orang lain mengenai apa yang Anda katakana
  6. apa yang Anda pikir orang lain katakana mengenai apa yang anda katakan

Keenam hal di atas menunjukkan betapa sulitnya komunikasi dapat berjalan lancar, karena ada banyak kemungkinan yang terjadi dengan pesan yang disampaikan. Kita ingin orang lain tidak saja mendengar, tetapi memahami apa yang sebenarnya kita maksudkan. Untuk itu, pepatah lama yang mengatakan, “Say what you mean and mean what you say,” adalah goal dalam komunikasi yang pantas untuk diperjuangkan, sehingga dapat meminimalisir masalah yang mungkin muncul setelah berkomunikasi dengan pasangan.[6]

Hal lain yang dapat dilakukan untuk menolong pasangan dapat berkomunikasi dengan baik adalah mempraktekkan “listen more, talk less”. Mendengar yang efektif berarti ketika seseorang berbicara anda tidak memikirkan tentang hal apa yang akan Anda sampaikan ketika dia berhenti, tetapi harus memberi perhatian penuh pada apa yang sedang dia katakan. Mendengar lebih daripada sekedar menunggu giliran Anda berbicara atau mendengar kata-kata yang disampaikan. Mendengar yang sesungguhnya adalah menangkap dan menerima pesan yang disampaikan, berusaha memahami pesan yang disampaikan oleh pasangan. Jadi bukan sekedar “I hear you”, tetapi “I hear what you mean”, yang artinya Anda dapat mendengar dan memahami apa yang pasangan maksudkan, bukan sekedar mendengar dia berbicara.[7]

Ketika listening secara umum dianggap sebagai bagian pasif dari komunikasi, ini adalah pandangan yang keliru. Karena proses listening yang sensitif mampu menjangkau sampai kedalaman jiwa orang lain, memperhatikan dengan aktif apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh pasangan. Proses ini memang tidak mudah karena listening bukanlah proses natural dalam diri manusia, kebanyakan dari kita lebih terdorong untuk banyak berbicara, mengekspresikan ide dan perasaan terhadap pasangan dibandingkan harus mendengarkan dia dengan perhatian penuh. Kita juga lebih sering menyaring apa yang orang lain coba sampaikan dengan pemikiran, pendapat dan kebutuhan-kebutuhan kita. Dengan kemampuan listening yang baik, komunikasi pasti dapat berkembang lebih baik dari sebelumnya. [8]

Hal lain yang juga perlu diperhatikan dalam berkomunikasi sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima dengan tepat oleh pasangan adalah dengan memperhatikan nonverbal communication yang kita ekspresikan. Kita sering menggunakan gesture, gerakan tubuh, dan ekspresi mata dengan konstan, tetapi kesadaran akan makna yang disampaikan dengan komunikasi nonverbal tersebut sangat rendah. Adakalanya kita mengatakan persetujuan atas suatu keputusan, tetapi gerakan tubuh kita tidak konsisten dengan menunjukkan bahasa tubuh ketidak setujuan. Hal ini tentu membuat pasangan bingung untuk memahami apa yang sebenarnya ingin kita sampaikan, sehingga tidak jarang pasangan menyimpulkan sendiri sesuai dengan pemikiran yang muncul.[9]

Komunikasi nonverbal sama seperti kode, kita perlu mempelajari bagaimana mengartikannya, mengubah, memperhalus, dan menyampaikannya dengan tepat. Berikut adalah beberapa hal yang perlu dilakukan oleh pasangan dalam mengantisipasi kesalahpahaman akibat bahasa nonverbal yang disampaikan dalam komunikasi:[10]

  1. berhati-hatilah dengan pesan nonverbal yang disampaikan kepada pasangan
  2. harus berlatih untuk bisa memahami pesan nonverbal yang disampaikan oleh pasangan kepada Anda
  3. kembangkan kemampuan nonverbal Anda dengan baik
  4. belajar bagaimana menyeimbangkan antara komunikasi nonverbal dan komunikasi verbal

Dengan melakukan keempat hal di atas, diharapkan tidak ada lagi situasi dimana pasangan salah mengartikan komunikasi nonverbal yang disampaikan pasangan. Pasangan juga perlu memperhatikan intonasi suara, karena intonasi suara sering sekali mengacaukan makna pesan yang ingin disampaikan kepada pasangan. Pasangan dapat salah mengartikan pesan jikalau nada suara kita terlalu tinggi atau terlalu rendah.[11]

Dari beberapa pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa  kunci dari menyampaikan pesan yang dapat ditangkap dengan baik oleh pasangan adalah menyampaikan pesan dengan jelas, mendengarkan (listening) pesan yang disampaikan dengan baik, memperhatikan komunikasi nonverbal dan intonasi suara. Dengan demikian komunikasi dapat berjalan dengan lebih baik.

 

BIBLIOGRAFI

D, Sarwatay and A. Divatia. “A Study on Interpersonal Communication between Married Couples on Planned Parenthood.” International Journal of Social Science and Humanity, Vol. 6, No. 1, (January 2016): 1-8

Florence dan Littauer, Marita. Talking So People Will Listen: You Can Communicate with Confidence (Michigan: Servant Publications, 1998.

Goldberg, Rebecca M. The SAGE Encyclopedia of Marriage, Family, and Couples Counseling.Thousand Oaks: Sage Publication, Inc, 2017.

Lederer, William J. and Jackson, Don D., M.D. The Mirages of Marriage. New York: W.W. Norton & Company, 1968.

Wright, H. Norman. Now That You’re Engaged: The Key of Building a Strong, Lasting Relationship. Ventura: Regal Books, 1985.

Wright, H. Norman. Communication: Key to Your Marriage. Ventura: Regal Books, 1980.

[1] William J. Lederer and Don D. Jackson, M.D., The Mirages of Marriage (New York: W.W. Norton & Company, 1968), 98-101.

 

[2] Rebecca M. Goldberg, The SAGE Encyclopedia of Marriage, Family, and Couples Counseling (Thousand Oaks: Sage Publication, Inc, 2017), 300.

[3] Sarwatay D. and Divatia A, “A Study on Interpersonal Communication between Married Couples on Planned Parenthood,” International Journal of Social Science and Humanity, Vol. 6, No. 1, (January 2016): 1-8

[4] H. Norman Wright, Now That You’re Engaged: The Key of Building a Strong, Lasting Relationship (Ventura: Regal Books, 1985),135-136.

[5] H. Norman Wright, Communication: Key to Your Marriage (Ventura: Regal Books, 1980), 52.

[6] Wright, Communication: Key, 54.

[7] Wright, Communication: Key, 55.

[8] Wright, Communication: Key, 56.

[9] Wright, Now That You’re Engaged, 138.

[10] Wright, Now That You’re Engaged, 138.

[11] Florence dan Marita Littauer, Talking So People Will Listen: You Can Communicate with Confidence (Michigan: Servant Publications, 1998), 68.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *