ARTICLE,  CHRISTIANITY

Konseling Pranikah 4 – Komunikasi dan Menghadapi Konflik dalam Pernikahan

Dalam buku “The Mirages of Marriage” dituliskan bahwa komunikasi merupakan salah satu komponen pernikahan yang paling penting. Berikut satu kutipan yang menarik mengenai komunikasi yang diutarakan dalam buku tersebut:

People in our culture believe that the most important communications are spokens or written. This view is erroneous, because everything which a person does in relation to another is some kind of message. The is no NOT communicating, even silence is communication. Thus one of the greatest difficulties in communication between individuals is recognizing what the other person really means.

Memang segala sesuatu yang dilakukan pasangan satu sama lain adalah bentuk komunikasi yang menyampaikan pesan tertentu. Namun sering sekali terjadi konflik dalam komunikasi karena pesan yang disampaikan dimaknai berbeda oleh pasangan, sehingga menimbulkan kesalahpahaman dalam hubungan karena menginterpretasikan pesan dalam konteks yang berbeda. Pasangan tidak dapat menangkap apa yang sebenarnya ingin disampaikan, dan menginterpretasikannya sesuai dengan konsep yang ada dalam pikirannya.[1]

Rebecca M. Goldberg juga menyampaikan hal yang sama, bahwa kesalahan dalam komunikasi memang muncul karena adanya kesenjangan antara apa yang dimaksudkan dengan persepsi pendengar, karena persepsi pendengar menentukan apa yang ditangkap olehnya, dan sering sekali tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya dimaksudkan. Kondisi ini terjadi secara timbal balik, sehingga semakin sulit untuk dapat memahami pesan satu sama lainnya.[2]

Kondisi yang berbeda, ada kalanya diri kita sendiri maupun pasangan sedang tidak memahami apa yang disampaikan sehingga komunikasi semakin runyam dan pesan semakin sulit sampai dengan benar.  Salah satu kunci dalam membangun komunikasi yang baik dengan pasangan adalah masing-masing harus mengerti dengan jelas pesan apa yang ingin disampaikan sehingga penyampaian pesan tersebut tuntas dan tidak menimbulkan salah pengertian. Faktanya sering sekali dalam berkomunikasi, masing-masing pun tidak memahami dengan jelas apa yang dia maksudkan, kondisi apa yang sedang diutarakan dan apa yang diharapkan.

Untuk itu, pepatah lama yang mengatakan, “Say what you mean and mean what you say,” adalah goal dalam komunikasi yang pantas untuk diperjuangkan, sehingga dapat meminimalisir masalah yang mungkin muncul setelah berkomunikasi dengan pasangan.

Hal lain yang dapat dilakukan untuk menolong pasangan dapat berkomunikasi dengan baik adalah mempraktekkan “listen more, talk less”. Mendengar yang efektif berarti ketika seseorang berbicara anda tidak memikirkan tentang hal apa yang akan Anda sampaikan ketika dia berhenti, tetapi harus memberi perhatian penuh pada apa yang sedang dia katakan. Mendengar lebih daripada sekedar menunggu giliran Anda berbicara atau mendengar kata-kata yang disampaikan. Mendengar yang sesungguhnya adalah menangkap dan menerima pesan yang disampaikan, berusaha memahami pesan yang disampaikan oleh pasangan. Jadi bukan sekedar “I hear you”, tetapi “I hear what you mean”, yang artinya Anda dapat mendengar dan memahami apa yang pasangan maksudkan, bukan sekedar mendengar dia berbicara.

Dalam pernikahan Kristiani, pasangan juga harus membangun komunikasi tripartit yaitu antara suami, istri dan Allah, karena realitanya manusia tidak dapat berkomunikasi secara utuh satu sama lain. Ditengah realitas ini, Kristus datang memperdamaikan manusia dengan sesamanya, begitu juga dalam aspek komunikasi. Dengan membangun komunikasi dengan Allah, pasangan dapat saling mendengarkan sesuai dengan prinsip kebenaran dan standar yang utuh dari Allah. Hasil dari komunikasi tiga arah antara Allah, suami dan istri adalah adanya kedekatan yang secara otomatis terjadi antara istri dan suami karena mereka bertemu di dalam Tuhan dalam setiap konteks kehidupan pernikahan mereka.

 

Konflik dalam hubungan pernikahan dan cara menghadapinya

Les dan Leslie Parrot mengatakan bahwa kemampuan untuk mengetahui bagaimana cara bertengkar dan mengatasi konflik yang baik merupakan hal yang penting dalam mempertahankan pernikahan bagi pasangan suami istri yang berbahagia. Parrot mengatakan:

Knowing how to fight fair is critical to your survival as a happy couple. Love itself is not enough to sustrain a relationship in the jungle of modern life. Being in love is,in fact, a very poor indicator of which couples will stay married. Far more important to the survival of a marriage, research show, is how well couples handle disagreements. Many couple don’t know how to handle conflict.[3]

Jika diperhatikan lebih mendalam, memang ada banyak pasangan yang tidak memahami bagaimana cara untuk mengatasi konflik dengan baik. Sebagian orang mengira ketenangan dan kesunyian dalam rumah tangga sebagai suatu tanda keharmonisan sehingga mereka berusaha untuk meminimalisir perbedaan-perbedaan yang ada tanpa pernah benar-benar mengatasinya. Di sisi lain, ada banyak pasangan di masa lalunya melihat orang tua mereka bertengkar dengan cara yang keliru, lalu mempelajari pola-pola pertengkaran tersebut, sehingga ketika mengalami konflik dengan pasangan, pertengkaran mereka dengan segera berubah menjadi penghinaan dan perlakuan kasar.[4]

Sesungguhnya konflik di dalam pernikahan adalah hal yang normal, karena setiap pribadi adalah unik dan memiliki latar belakang yang berbeda. Bahkan dalam pernikahan yang paling ideal pun pasti terdapat konflik, Permasalahannya adalah bagaimana cara pasangan dalam meresponi setiap konflik yang muncul dalam pernikahan mereka.[5] Begitu banyak pasangan yang memiliki persepsi yang salah bahwa perbedaan-perbedaan yang ada dalam diri mereka merupakan kelemahan yang dapat merusak pernikahan, dibandingkan dengan memiliki pemikiran yang positif bahwa Tuhan dapat membuat perbedaan tersebut menjadi kekuatan dalam pernikahan.[6]

Sumber konflik dalam pernikahan sangat beragam, tidak hanya permasalahan yang besar, tetapi juga hal-hal sepele. Karena apa yang dianggap penting oleh seseorang, belum tentu penting bagi pasangannya. Jadi, faktor bawaan (predisposing factor) menjadi penentu utama konflik, sebelum faktor pencetus (precipitating factor) muncul. Misalnya pasangannya melakukan kesalahan, sebenarnya individu tersebut sudah siap untuk konflik. Inilah yang disebut predisposing misalnya mood atau suasana hati yang pada saat itu sudah tidak enak, terlalu lelah, munculnya prasangka-prasangka, atau berbagai kegelisahan hati yang lain.[7] Bila menyangkut hal yang besar, penelitian menunjukkan bahwa masalah keuangan merupakan sumber konflik yang paling sering menjadi permasalahan dalam pernikahan. Dimana dua orang yang berbeda, yang tentu saja sering sekali memiliki harapan, tujuan dan cara menggunakan uang yang berbeda.[8]

Bagaimana cara kebanyakan pasangan dalam menghadapi konflik yang terjadi? Salah satu cara tradisional dalam menghadapi konflik adalah dengan menekan dan mendiamkan masalah, dan berusaha melupakannya. Hal ini dipandang sebagai cara yang baik dan sesuai dengan ajaran kekristenan, membahas masalah yang terjadi hanya akan membuang energi dan waktu serta merusak kesaksian hidup. Cara yang lain adalah dengan mengekspresikan perasaan dengan terang-terangan sampai menimbulkan pertengkaran yang hebat. Kedua cara di atas tidak dapat menyelesaikan konflik yang ada, namun dapat memperburuk keadaan dengan masalah yang terus menerus berkembang menjadi lebih besar.[9]

Susabda juga mengungkapkan bagaimana pasangan Kristen memiliki cara penyelesaian konflik yang sehat dan benar, sehingga dapat terus belajar dari berbagai konflik dan tidak mengulang-ulang hal yang sama tanpa adanya perubahan sikap yang lebih dewasa. Oleh sebab itu, berbicara cara mengatasi dan menyelesaikan, mereka harus memahami dan menerapkan prinsip-prinsip sebagai berikut:[10]

  1. Setiap pasangan seharusnya menjadi individu-individu yang mempunyai keinginan untuk bertumbuh di dalam Kristus. Munculnya keinginan ini tidak dapat dibuat-buat dan juga bukan merupakan akibat dari janji yang diucapkan. Dorongan ini merupakan buah dari hubungan pribadi yang sehat dengan Kristus. Ditandai dengan kerinduan berdoa dalam pergumulan yang jujur di hadapan Allah, membaca Alkitab dan mengaplikasikannya dalam kehidupan, dan membaca buku rohani.
  2. Setiap pasangan adalah individu yang mempunyai keinginan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa. Ia selalu ingin belajar, ingin memberi dan bukan hanya menuntut, bersedia berkorban dan melayani pasangannya, serta bersedia untuk menjadi dewasa. Tanpa keinginan dan motivasi yang tulus, maka penyelesaian konflik semata-mata hanyalah untuk membebaskan diri dari gangguan, individu yang tidak mempunyai keinginan untuk menjadi lebih dewasa cenderung egosentristik dalam penyelesaian konflik.

[1] William J. Lederer and Don D. Jackson, M.D., The Mirages of Marriage (New York: W.W. Norton & Company, 1968), 98-101.

[2] Rebecca M. Goldberg, The SAGE Encyclopedia of Marriage, Family, and Couples Counseling (Thousand Oaks: Sage Publication, Inc, 2017), 300.

[3] Les dan Leslie Parrot, Saving Your Marriage Before It Starts: Seven Questions To Ask Before (And After) Your Marry (Michigan: Zondervan, 1995), 113.

[4] Parrot, Saving Your Marriage, 113.

[5] H. Norman Wright, So You’re Getting Married (California: Regal Books, 1985), 187.

[6] Neil T. Anderson dan Charles Mylander, The Christ Centered Marriage: Discovering And Enjoying Freedom In Christ Together (California: Regal Books, 1996), 126.

[7] Yakub Susabda, Konseling Pranikah: Sebuah Panduan Untuk Membimbing Pasangan-Pasangan Yang Akan Menikah (Jakarta: Mitra Pustaka), 88.

[8] Judith S. Wallerstein dan Sandra Blakeslee, The Good Marriage: How & Why Loves Lasts (Boston: Houghton Mifflin Company, 1995), 144.

[9] Wright, So You Are, 189.

[10] Susabda, Konseling Pranikah, 91-92.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *