ARTICLE, CHRISTIANITY, PERSONAL

Berjalan Sendiri, Yakin Nih?

Lahir sebagai anak pertama dari empat bersaudara memang memberi pembentukan tersendiri ya buat aku, jadi dari kecil terbiasa sebisa mungkin ngga ngerepotin orang tua. Kalau bisa malah bantuin orang tua walau kadang mager juga kalau disuruh cuci piring, masak, mandiin adek, kasih inang matua (nenek) makan dan mandiin, atau sesederhana bantuin PR adek.

Dari kecil udah bantu mamak jualan dengan jaga kios, pulang sekolah langsung buka kios mamak, jagain sampai malem. Kalau libur ya sejak bangun pagi sampai tidur lagi jaga kios. Ujung-ujungnya memang kurang bermain dan kerjaannya baca melulu karena mamak juga rajin beliin bacaan. Salah satu penghiburan kala itu album-album bajakan  Westlife sampai hapal dan bangga nyanyiin dimana-mana.

Salah satu dampak kurang bermain dan dewasa sebelum waktunya yang aku rasain sih jadi sulit untuk mengungkapkan perasaan yang sebenarnya, ingin tampil kuat. Kalau lagi sedih atau senang tetap suka cerita karena anaknya emang sanguin, tapi biasa cuma cerita luarnya doang, deep down in my heart gaada yang tau. Aku terbiasa nggak mau terlihat lemah, harus kuat, dan memaksa diri kuat padahal di dalem udah rapuh banget.

Kebiasaan ini kebawa sampai aku dewasa, ya sekarang ini masih tahap berjuang berubah. Kalau lagi banyak masalah pun biasanya simpan sendiri, atasi sendiri dan stress sendiri. Sejak punya pacar (bang Darno) bisa cerita ke doi, tapi kadang suka batesin juga karena mikir doi juga banyak tanggungjawab.

Ujung-ujungnya sering merasa sendirian berjuang, ngga ada yang care, sumpek sendiri, dan punya mood depresi, mengurung diri di kamar dan ngga produktif sama sekali. Padahal sendirinya yang nggak mau terbuka ke orang lain, sok kuat dan sempurna sampai batas tertentu uda ngga kuat jadinya bocor alus gitu, ngerti kan? Kesannya suka ngeluh kemana-kemana, keluar secuil-secuil keluhan tapi nggak tuntas jadi ya gitu terus kemana-mana sampai lelah.

Pola yang ngga sehat banget ini, akhirnya memutuskan untuk kembali berteman dengan wajar dan normal. Terlihat gagal dan nggak mampu juga ngga ada masalah kali, mengeluh dan curhat terbuka sampai sebusuk-busuknya juga ngga apa-apa, nggak selalu sempurna justru membuat orang lain ngga sungkan buat deket-deket, toh sama-sama punya kelemahan jadi yaudah cerita aja kelemahan masing-masing, gokilnya jadi bisa saling menertawakan kelemahan dan kebodohan yang ternyata seru juga lol

Bang Darno banyak ingatin kalau aku ngga apa-apa terlihat lemah, ngga melulu setrongg ala-ala wonder woman,justru kalau aku perhatikan dia senang kalau aku belajar bermanja dan bergantung yang notabene dulu rasanya menggelikan. Kalau apa-apa bisa sendiri buat apa harus minta tolong dan ngerepotin orang, aku harus buktikan aku mampu. Sungguh prinsip yang sangat melelahkan, sekarang tobat deh. Cerita ke orang lain kalau sedang puyeng dengan tesis, ada masalah ini itu, ternyata ngga apa-apa tuh. Justru makin kesini makin keliatan siapa orang yang benar tulus berteman dengan kita.

Pada kenyataannya ngga ada orang yang mampu berjalan sendiri, sekuat apapun dia. Layaknya manusia pada umumnya, butuh orang lain untuk sekedar mengingatkan kalau kita manusia yang punya kelemahan dan kelebihan, sesederhana pijatan teman asrama kalau masuk angin, sesederhana pelukan teman di kala kita ngerasa berat, sesederhana kealayan dan ngakak bareng untuk hal-hal ngga penting. Sesederhana motivasi dari mentor di Amway yang selalu ingatin potensi yang dimiliki. Intinya kita butuh orang lain dan ngga bisa tanpa mereka semua.

Dengan keputusan ini aku merasakan hubungan dengan keluarga membaik, memang tidak terlihat ada masalah selama ini, tapi tanpa kusadari justru aku menjauh dari keluarga dengan tidak menceritakan kesusahakanku. Karena keluarga seharusnya menjadi tempat pertama mengadu untuk suka dan duka, tidak perlu terlihat selalu kuat di depan orang tua dan adik-adik. Sekarang rasanya lebih enjoy dengan hubungan kami, aku apa adanya dan mereka juga.

Semoga kisahku menolong teman-teman yang ngerasa berjuang sendiri saat ini, coba lihat keluar jangan-jangan kita yang menutup mata dengan dukungan sosial yang sebenarnya selalu tersedia untuk kita, kita yang enggan membuka diri, enggan keheningan yang kita nikmati diusik orang lain.

Tuhan sangat mengasihiku dan teman-teman juga, Ia selalu ada dimanapun dan kapanpun itu, Ia juga menyediakan orang-orang yang kita butuhkan disadari maupun tidak disadari, dan selalu tepat waktu banget.. Hanya saja kita perlu membuka mata hati untuk dapat melihat keberadaan mereka, karena berkat Tuhan tidak menghilangkan tanggung jawab manusia. Kapan terakhir kali komunikasi dengan sahabat? Kapan terakhir kali ngobrol dengan keluarga?

 

You never walk alone 🙂

Mau cerita? Boleh comment ya atau email ke: oasecounselingcentre@gmail.com

God Bless You ya 🙂

 

Sharing is caring
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *