Uncategorized

School Counselor -Only By His Grace

Profesi sebagai
konselor sekolah merupakan salah satu jawaban Tuhan untuk hidup saya yang
sangat saya syukuri. Bagaimana tidak, semua hal yang dahulu saya anggap
kelemahan, diubahkan dan dipakai Tuhan menjadi kelebihan yang dapat menolong
orang lain. Dahulu,saya sangat khawatir dengan sifat saya yang cerewet, terlalu
banyak berbicara, sulit mendengar, kritikus, mudah peka akan kesalahan orang,
berlidah tajam dan menusuk, tidak sabar dan tidak mampu untuk sekedar membujuk
teman yang sedang menangis. Ego saya terlalu besar untuk itu, bukan karena saya
tidak empati, bukan juga tidak mampu merasakan apa yang dia rasakan, sungguh
saya tidak tahu bagaimana caranya menghibur orang lain dan sungguh saya tidak
paham bagaimana saya harus mengekspresikan rasa sayang dan empati.
Namun melalui
pembentukan Tuhan, semua kekurangan tersebut perlahan diubahkan, bahkan
dipakaiNya untuk menolong orang lain. Saya sendiri tidak menyadari kapan semua
itu bisa berubah, saya mendapati saya sekarang berbeda dengan yang dulu. Walau
sejujurnya sampai saat ini saya harus berjuang untuk meninggalkan semua sifat
lama saya, sering gagal namun bangkit lagi. Firman Tuhan” Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih
karunia-Ku  bagimu , sebab justru dalam kelemahanlah, kuasa-Ku  menjadi
sempurna.” Sebab itu
terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun
menaungi aku”. (2 Korintus 12:9).
Tanpa
disadari, saya sekarang seseorang yang (maaf hanya belajar mengenal diri
sendiri, bukan menyombongkan atau memuji diri LOL ), tetap cerewet ahahah (walau sudah ada yang mengakui saya tidak
cerewet,asyikkk ^^ )
namun sudah lebih mampu untuk menahan diri dari berbicara
terlalu banyak dan lebih peka menempatkan kata-kata, sudah “sedikit” lebih
mampu untuk mendengar melalui banyak hajaran dari Tuhan, nah, kekritikusan (ko
tikus sih pffft) dan kemampuan melihat kesalahan dengan cepat dahulu Tuhan ubah
arahnya dan sangat bermanfaat untuk diri saya yang sekarang, saya lebih mudah
mengenali peluang-peluang dimana saya bisa memasuki pikiran siswa saya, dengan agak
ligat melihat celah dimana saya bisa memperdalam isi cerita kami ke hal-hal
yang lebih detail (dulu saya sangat tidak detail, bahkan selalu merasa gagal
untuk detail), dan dengan lihai memancing sana sini sehingga tanpa sadar mereka
sudah membukakan diri sampai ke alam bawah sadar (Jangan bayangkan saya
hebat-hebat amat, saya mungkin agak lebay menggambarkannya, saya biasa aja ko,
amatiran).
Setiap hari saya
bertemu dengan para remaja dengan berbagai kondisi dan kebutuhan. Saya memiliki
peluang yang sangat besar untuk mengetahui apapun yang menjadi beban di hati
muda itu. Memiliki kesempatan yang terbuka luas untuk sedikit membalut luka
mereka.
Posisi sebagai konselor sangat mempermudah saya dalam menjangkau,
mengisi mereka dengan nilai-nilai kebenaran, menggantikan posisi nilai-nilai
penuh kebengkokan yang selama ini mereka temui dalam hidup.
Kebanyakan dari mereka
terbuka secara otomatis, menceritakan semua dengan detail tanpa saya harus
banyak bertanya. Walau tak jarang saya harus memberikan pancingan-pancingan
berupa pertanyaan terbuka yang sangat simpel. Tak jarang saya ikut terhanyut
dengan kondisi mereka, ikut bersusah hati dengan pengalaman hidup yang sering
membentuk mereka menjadi pribadi yang tidak diterima oleh lingkungan, dianggap
tidak membanggakan.
Dari banyak kasus yang
saya temui, hasil analisis dan observasi saya yang amatiran, saya menemukan
bahwa permasalahan utama pada remaja berasal dari lingkungan sosialnya, yaitu
keluarga, teman-teman dan sekolah. Anak dengan keluarga broken home dan keluarga yang tidak harmonis berpotensi menjadi
anak yang memiliki banyak masalah. Nilai akademik yang buruk, sifat arogan dan
kasar dalam pertemanan, merasa tidak dikasihi, memiliki self image (gambaran diri) dan self
esteem
(harga diri) yang rendah. Tidak jarang anak menjadi trauma dengan
pernikahan dan sulit membangun trust (rasa
percaya) yang mendalam dengan orang lain.
Anak yang memiliki
orang tua perfectionism (segala
sesuatu harus sempurna), terbentuk menjadi anak yang tidak percaya diri, focus
hidupnya adalah menyenangkan orangtua dan sekitar tanpa memperhatikan
kesenangan diri sendiri, hidup dibayangi ketakutan akan penolakan dan tidak
dihargai. Salah seorang siswa saya bahkan sudah terbiasa dengan percobaan bunuh
diri, memotong urat nadi, mencoba gantung diri, depresi berkepanjangan menjadi
rutin baginya. Sungguh mengherankan dengan kondisi tersebut prestasinya gilang
gemilang, tidak berani berontak karena selalu dituntut sempurna, nilai 90 itu
memalukan, harusnya nilai 100 lah yang selalu tertera di lembaran ujian itu.
Mengakhiri hidup memang jalan terbaik, ada kepuasan tersendiri ketika menyakiti
tubuh bahkan mungkin mati adalah jalan yang sempurna mengakhiri semuanya.
Sungguh keropos dan hampir hancur, lelah mental.. Saya merasa gagal sebagai
konselor dalam kasus anak ini, saya tidak sanggup untuk menahan air mata ketika
saya menceritakan tentang Yesus yang menjadi harapan dalam hidupnya, membagikan
kesaksian bagaimana Yesus memulihkan dan menolong hidup saya menjadi maksimal,
berharap penuh dan beriman dia mampu memahami bahwa hidupnya sungguh berharga.
Kegagalan ini mengganggu ego saya, seharusnya saya netral tidak terbawa emosi.
Namun saya belajar mengimani bahwa Roh Kudus akan bekerja dalam dirinya, tak
peduli saya gagal atau tidak dengan profesi ini.
Anak yang menjadi
korban Bullying teman-teman juga
memiliki potensi menjadi anak yang merasa ditolak, tidak percaya diri, dan
secara tidak sadar membangun defence (pertahanan
diri). Anak korban Bullying yang
pernah saya lihat, tidak mampu melawan teman-teman yang sering menggangguinya,
akhirnya si anak tersebut membangun pertahanan diri melalui imajinasinya. Satu
anak menjadi sangat suka menonton film mengenai seorang “HERO”, misalkan Spiderman.
Dan juga mempelajari tokoh-tokoh hebat supaya dia dapat mempelajari strategi
mereka dalam mempertahankan diri. Anak tersebut sering mengaplikasikannya,
sehingga terlihat kasar, arogan, dan melakukan tindakan-tindakan di luar
jangkauan yang bisa saja membahayakan dirinya dan orang lain. Anak lainnya,
membangun imajinasi dengan berpikir bahwa suatu saat nanti dia akan menjadi
seseorang yang hebat dan kuat, dan pada saat itu dia akan membalaskan
dendamnya. Dalam imajinasinya dia membangun cerita mengenai suatu sistem yang
sangat canggih, di luar jangkauan manusia, hanya untuk satu tujuan, membalaskan
dendam. Terkadang mengancam untuk bunuh diri saja, membuat siapapun di dekatnya
ketakutan dan khawatir. Sungguh memprihatinkan.
Tuntutan kurikulum di sekolah pada masa ini sungguh berat bagi siswa, mereka dituntut berada di sekolah sampai sore, banyak pekerjaan rumah, kehilangan masa bermain dan kesempatan berinteraksi sosial yang semakin sedikit. Sungguh, ini juga memprihatinkan. Salah seorang anak pernah berkonsultasi kepada saya, bertanya mengenai Iucid dream, yaitu kemampuan untuk menentukan mimpi yang kita alami dan seperti berada di dunia nyata. Selidik punya selidik, ternyata si anak tidak memiliki waktu untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan, hobi, maupun mempelajari info yang disukainya. Seluruh waktunya dihabiskan mengerjakan tuntutan kurikulum sekolah, les, pekerjaan rumah, dan lainnya. Saya sangat terenyuh dengan fakta itu, si anak penasaran dengan lucid dream karena memiliki pemikiran bahwa dia dapat melakukan hal yang menyenangkan di dunia mimpi, sementara dia tetap dapat melakukan tanggungjawabnya di dunia nyata.
Ada banyak kasus yang unik saya temui, yang bahkan tidak pernah terpikirkan oleh saya. Saya akan mencoba menuliskannya dilain kesempatan. Satu hal yang ingin saya sampaikan, saya sangat menikmati profesi ini, semoga secara maksimal dapat saya manfaatkan untuk menanamkan nilai dan sikap yang benar terhadap anak-anak bangsa. God Bless Us

6 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *