Uncategorized

GANGGUAN PSIKOLOGIS DAN SALIB KRISTUS

 Oleh Agung Kurniawan, M.Psi
 
PENDAHULUAN
Psikologi
adalah salah satu cabang ilmu modern yang mempelajari dinamika jiwa
manusia yang nampak dari perilakunya. Jadi dalam ilmu psikologi untuk
memperoleh gambaran mengenai jiwa manusia, diperlukan gambaran dari
perilaku yang muncul. Jiwa adalah unsur penting dalam diri manusia yang
membedakannya dengan binatang. Dengan adanya jiwa, manusia mampu
menyadari keberadaannya, mengenal dirinya, merefleksikan hidupnya, dan
menilai lingkungannya. Oleh karena itu, pada awal kelahirannya,
psikologi menekankan pentingnya kesadaran. Kesadaran disini meliputi
perasaan, pikiran, dan imajinasi. Penilaian seseorang terhadap objek di
sekelilingnya bergantung kepada isi pikiran, perasaan, dan imajinasi
seseorang. Sebagai contoh, si A dapat menilai sebuah lukisan secara baik
jika pikirannya mampu menangkap tingkat kesulitan dalam lukisan itu,
perasaan pelukis saat melukiskannya, dan imajinasi campuran warna yang
dipakai pada lukisan tersebut.
Faktanya,
cara seseorang menilai sesuatu antara satu orang dengan yang lain bisa
sama atau berbeda, oleh karena itu para ilmuwan psikologi memberikan
suatu istilah kepada keunikan setiap orang dalam menyadari lingkungannya
dengan istilah kepribadian. Kepribadian adalah cara unik seseorang
dalam memandang, menyadari, dan meresponi lingkungannya. Permasalahan
yang muncul berikutnya dalam dunia psikologi adalah bagaimana menilai
kepribadian seseorang itu normal atau abnormal. Kriteria yang dipakai
selama ini untuk membedakan kepribadian seseorang itu normal atau
abnormal adalah apakah kepribadian orang tersebut menimbulkan gangguan
pada orang lain dan diri sendiri. Hal tersebut menjadi salah satu alasan
bagi para psikolog maupun psikiatri untuk tidak memasukkan kembali
homoseksual ke dalam daftar gangguan (DSM IV-revised)
karena kaum homoseks dianggap tidak mengganggu masyarakat dan fungsi
hidup mereka sendiri. Terlepas dari perdebatan panjang masalah gangguan
homoseksual, satu pertanyaan yang mungkin perlu kita renungankan bersama
adalah apakah suatu gangguan kepribadian hanya milik segelintir orang
saja ataukah semua orang pada dasarnya sedang mengidap suatu gangguan
tanpa terkecuali?
SEKILAS PANDANG PSIKOLOGI MODERN
Meskipun
pada umumnya para ahli psikologi maupun psikiatri memakai dua kriteria
tersebut untuk menilai apakah suatu kepribadian mengalami suatu gangguan
atau tidak, akan tetapi masing-masing ahli mempunyai tolok ukur
masing-masing berkaitan dengan dua kriteria tersebut. Perbedaan tolok
ukur masing-masing ahli dibedakan berdasarkan mazhab atau aliran yang
dianut oleh mereka. Dalam ilmu psikologi, kajian teori kepribadian
terbagi menjadi tiga mazhab utama yaitu

psikoanalisis, behavioristik dan
humanistik. Mazhab psikoanalisis dan behavioristik memandang
kepribadian manusia secara mekanistik-deterministik, sedangkan mazhab
humanistik memandang kepribadian manusia secara dinamis dan bebas.
Mazhab psikoanalisis menekankan bahwa seluruh dinamika kehidupan manusia
seperti pikiran, perasaan, dan kehendak diakibatkan atau dipengaruhi
oleh dua hal yaitu: masa lalu dan insting. Tindakan ataupun keputusan
seseorang saat ini amat dipengaruhi oleh pengalamannya pada masa lalu
khususnya pada usia lima tahun pertama. Oleh karena itu, para ahli
psikoanalisis menekankan pentingnya pengawasan dan pendidikan yang ketat
pada masa usia lima tahun pertama. Apabila bayi pada usia 0-3 tahun
tidak diajarkan pendidikan toilet training, yaitu memberikan pelatihan kepada bayi untuk belajar buang air kecil sebelum tidur agar malam harinya tidak sering ngompol,
di kemudian hari anak tersebut akan menjadi orang yang sangat impulsif,
tanpa kontrol, tidak sabaran, dan memiliki keinginan yang harus
secepatnya terpenuhi. Jika seorang bayi tidak mendapatkan sentuhan kasih
sayang orang tua, seperti mengelus rambut atau mendekap bayi dengan
kasih sayang, anak tersebut akan tumbuh menjadi orang yang haus akan
kasih sayang dan selalu ingin diperhatikan. Jadi suatu gangguan akan
muncul jika pengalaman pemenuhan kebutuhan pada usia lima tahun pertama
kurang terpuaskan atau terpenuhi dengan baik.

Berikutnya
psikoanalisis juga memandang bahwa dinamika kehidupan manusia bukan
hanya dipengaruhi oleh pengalaman pada usia lima tahun pertama, namun
juga dipengaruhi oleh insting. Menurut paham psikoanalisis, perilaku
manusia dipengaruhi oleh dua macam insting yaitu insting seksual dan
insting membunuh (agresi). Dua insting ini muncul karena manusia
memiliki tujuan hidup yaitu memperoleh kesenangan dan menghindari
penderitaan. Oleh karena itu insting seksual adalah sarana untuk
memperoleh kesenangan sedangkan insting membunuh adalah sarana untuk
menghindari penderitaan. Insting membunuh bukan diartikan membunuh dalam
arti harafiah tetapi diartikan sebagai menguasai maupun mengalahkan
orang lain atau lingkungan.
Dalam
psikoanalisis, gangguan perilaku muncul jika seseorang tidak dapat
memenuhi kebutuhan dua insting tersebut. Berdasarkan kepercayaan orang
Jawa, hidup seseorang tidak terlepas dari tiga hal yaitu harta, tahta,
dan wanita. Harta dan tahta mewakili insting membunuh sedangkan wanita
mewakili insting seksual. Orang yang memiliki semangat dan daya juang
yang besar bahkan agresif dalam hal mengejar tingkat pendidikan yang
terbaik hingga jenjang doktoral; dapat dikatakan sehat secara
psikologis. Sebaliknya orang yang malas belajar, memiliki pandangan asal
lulus, dan asalkan mendapat gelar, dapat dikatakan sedang mengalami
gangguan. Jadi berdasarkan mazhab ini, ada orang yang tidak mengalami
gangguan dan ada orang yang mengalami gangguan.
Mazhab
berikutnya adalah mazhab behavioristik. Mazhab ini memandang bahwa
dinamika kepribadian manusia dipengaruhi oleh stimulus yang datang
kepadanya. Perilaku kita merupakan respon terhadap stimulus yang muncul,
apakah itu stimulus eksternal ataupun stimulus internal. Jadi suatu
perilaku akan menjadi suatu gangguan jika terjadi ketidaksesuaian antara
stimulus dan respons. Bahkan penekanannya adalah gangguan merupakan
respons yang salah terhadap suatu stimulus. Menurut kacamata mazhab ini,
alasan seseorang tidak memberikan respon yang tepat adalah karena
adanya konsekuensi yang negatif dari suatu respons. Konsekuensi negatif
meliputi semua hal yang tidak menyenangkan dan tidak memberikan
keuntungan/kepuasan. Oleh karena itu, ketika suatu gangguan muncul,
yaitu respons yang tidak tepat, para ahli memberikan positif reinforcement
(sesuatu yang menimbulkan konsekuensi positif) dengan harapan akan
muncul respons yang tepat. Inilah yang disebut sebagai modifikasi
perilaku. Contoh: ketika seorang karyawan suatu perusahaan malas atau
tidak disiplin dalam bekerja (tidak memberikan respons yang tepat
terhadap aturan main perusahaan), maka untuk mengubah gangguan tersebut
perlu diberikan konsekuensi positif misalnya memberikan insentif berupa
uang atau tiket berlibur ke Bali. Diharapkan dengan adanya insentif
tersebut, karyawan akan terstimulasi untuk mengubah sikap atau etos
kerjanya. Sekali lagi pada mazhab ini dibedakan antara orang yang sehat
dan orang yang sedang mengalami gangguan.
Mazhab
yang terakhir dalam psikologi adalah humanistik. Mazhab humanistik
memandang bahwa dinamika kepribadian seseorang didasarkan atas
pilihannya sendiri dan mengarah kepada tujuan akhir yaitu aktualisasi
diri. Mazhab
humanistik sangat dipengaruhi oleh semangat abad pencerahan yang sangat
meninggikan kemampuan manusia. Ilmu ini menekankan bahwa manusia adalah
pemeran utama dalam panggung sandiwara dunia. Dalam kajian teori
humanistik, manusia adalah makhluk yang bebas dan netral artinya
dinamika kepribadian manusia tidak ditentukan oleh pengalaman masa lalu,
insting, dan akibat perlakuan positif reinforcement
karena manusia memiliki pilihan dan kebebasan. Berdasarkan pemahaman
tersebut maka gangguan muncul jika manusia tidak berdaya untuk memilih
atau menentukan kehidupannya. Keterikatan atau penaklukan merupakan
suatu gangguan karena keterikatan menghambat seseorang untuk memperoleh
aktualisasi diri. Contoh: seorang siswa selalu mengalami kecemasan
setiap kali ujian maka anak tersebut sedang mengalami gangguan, karena
dia telah terikat kepada kecemasan atau terlalu dikendalikan
kecemasannya sehingga nilainya jeblok. Pada bagian ini sekali lagi terdapat dikotomi kondisi psikologis: mengalami gangguan dan tidak mengalami gangguan.
Jika kita perhatikan
ketiga mazhab tersebut, maka terjadinya dikotomi kondisi antara
terganggu dan tidak terganggu disebabkan oleh tujuan yang ingin dicapai.
Ketiga mazhab tersebut memiliki persamaan tujuan yaitu pemenuhan diri,
kepuasan diri, dan kenyamanan diri. Singkatnya muara dari tujuan manusia
adalah mementingkan diri sendiri, dan kemuliaan diri. Mazhab
psikoanalisais mengajarkan bahwa suatu gangguan ditentukan oleh ada
tidaknya pemenuhan insting, mazhab behavioristik mengajarkan bahwa suatu
gangguan ditentukan oleh ada tidaknya positif reinforcement,
dan mazhab humanistik mengajarkan bahwa suatu gangguan ditentukan oleh
ada tidaknya kebebasan memilih untuk pencapaian aktualisasi dirinya.
Namun yang masih menjadi pertanyaan adalah ketika pemenuhan kepuasan
atau kemuliaan diri telah tercapai, bagaimana ilmu psikologi modern
dapat menunjukkan kesehatan mutlak secara psikologis dan menghindarkan
manusia dari munculnya gangguan psikologis? Mari kita perhatikan suatu
kasus dari sudut pandang psikoanalisis.
Tayangan infotainment
banyak menyuguhkan kasus perselingkuhan di antara para artis yang sudah
menikah atau konflik relasi suami-istri yang bermuara pada perceraian.
Seharusnya menurut pandangan psikoanalisis, ketika seseorang telah
menikah maka insting seksual telah terpenuhi maka perselingkuhan yang
bisa mengakibatkan perceraian dan tindak kejahatan seharusnya tidak
terjadi. Namun faktanya banyak orang yang telah menikah tetap selingkuh
dan bercerai dengan suami/istrinya. Jika demikian halnya, maka baik
orang yang tengah terikat pornografi maupun orang yang telah menikah
tetap mengalami gangguan.
Mari kita perhatikan kasus lain dalam sudut pandang humanistik. Tayangan infotainment
baru-baru ini menayangkan kasus artis Roy Marten yang terlibat kasus
penggunaan narkoba. Seharusnya menurut pandangan humanistik seorang
seperti Roy Marten telah mendapatkan segalanya, baik harta, tahta
popularitas, dan wanita secantik Anna Maria. Dengan demikian dapat
dikatakan ia telah mencapai pemenuhan aktualisasi dirinya, namun dengan
kehendak bebasnya tersebut ia justru menjatuhkan pilihannya untuk
terikat kembali kepada narkoba. Bukankah hal tersebut menunjukkan bahwa
semua yang dia peroleh tidak dapat memenuhi aktualisasi dirinya? Mungkin
dia menganggap narkoba merupakan sarana yang dapat mengaktualkan
dirinya. Apapun alasan yang ia berikan, toh
akhirnya ia memilih keterikatan yang membuat dia tidak bebas memilih.
Jadi meskipun seseorang yang menurut teori ini seakan-akan telah
mencapai tingkat aktualisasi diri, sebenarnya ia masih memerlukan
sesuatu yang dapat memenuhi aktualisasi diri yang lebih tinggi.
Kesimpulan
dari semua kasus tersebut adalah tidak ada seorangpun yang benar-benar
mencapai kepuasan atau pemenuhan diri sejati dan tertinggi
sehingga selama hidupnya manusia akan terus menerus mengalami gangguan.
Jadi dapatkah kita membuat dikotomi antara orang yang sehat karena
tidak mengalami gangguan dan orang yang mengalami gangguan? Tidak! Semua
orang tidak terkecuali, sedang mengalami suatu gangguan.
PSIKOLOGI YANG ALKITABIAH
Jika
tolok ukur suatu kriteria tentang ada tidaknya suatu gangguan bermuara
kepada kepuasan atau pemenuhan diri manusia, maka sebenarnya tidak ada
seorangpun yang pernah puas atau mencapai pemenuhan diri. Setiap orang,
dalam dirinya, sebenarnya merasakan suatu keinginan yang selalu kurang.
Lingkaran setan ini berkaitan erat dengan natur manusia berdosa yaitu
sifat yang mementingkan dan mencari kemuliaan diri. Dengan demikian
gangguan psikologis juga merupakan gambaran dari natur manusia berdosa.
Oleh karenanya perlu ada jalan keluar yang berbeda dengan pendapat para
ahli psikologi modern supaya setiap orang tidak terjebak kepada
“lingkaran setan” gangguan psikologis yang semakin kronis. Jalan keluar
bagi masalah tersebut harus didasarkan kepada tujuan semula manusia
diciptakan oleh Allah. Para ahli psikologi modern telah membuang Allah
untuk menemukan tujuan hidup manusia sehingga akhirnya solusi yang
mereka tawarkan bagi panyelesaian suatu gangguan sesungguhnya merupakan
penyelesaian yang semu dan tidak tuntas bahkan bermuara kepada
“lingkaran setan” gangguan berikutnya yang tidak pernah putus.
Katekismus Westminster
menyatakan bahwa tujuan hidup manusia adalah memuliakan Allah dan
menikmati Dia selama-Nya. Semua aspek dalam kehidupan manusia haruslah
untuk kemuliaan Allah. Tidak ada satupun yang tersisa untuk kemuliaan
diri. Kejadian 1: 26 menyatakan bahwa manusia dicipta sesuai dengan
gambar dan rupa Allah artinya secara natur, manusia mencerminkan
kemuliaan Allah. Dengan demikian, usaha untuk mencapai tujuan hidup
manusia, yaitu memuliakan Allah, merupakan natur kehidupan manusia.
Jikalau memuliakan Allah merupakan natur yang seharusnya melekat dalam
diri manusia maka kita bisa menyimpulkan bahwa definisi gangguan menurut
Alkitab adalah menyimpang dari tujuan hidup manusia semula yang sudah
ditetapkan oleh Allah. Sesungguhnya makna tujuan hidup sebagaimana
tercermin dalam ilmu psikologi modern merupakan bentuk penyimpangan dari
tujuan manusia yang sesungguhnya menurut rancangan Allah sehingga hal
tersebut merupakan bentuk gangguan berdasarkan kaca mata pengajaran
Alkitab.
Oleh karena itu, ilmu
psikologi sangat perlu untuk kembali kepada pengajaran Alkitab.
Diperlukan ilmu psikologi Kristen yang berbeda dengan psikologi modern.
Pilihan untuk menghadirkan ilmu psikologi Kristen yang berlandaskan
Alkitab sesungguhnya bukan merupakan suatu alternatif tetapi
satu-satunya penawaran jalan keluar yang penting dan mendesak sehingga
tidak bisa ditunda. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, seluruh
kehidupan manusia sedang berjalan dalam kriteria gangguan. Jika hal itu
dibiarkan terus-menerus, akan terjadi kekacauan, kejahatan, dan konflik
antar manusia yang tidak pernah kunjung selesai. Psikologi Kristen harus
menegakkan kembali hakikat tujuan hidup manusia yang telah menyimpang.
Seluruh proses konseling, psikodiagnostik maupun proses terapi harus
dilandaskan kepada perspektif tersebut. Psikologi Kristen boleh
menggunakan DSM-IV revised
untuk mengetahui gejala dan gangguan yang sedang terjadi. Namun proses
psikodiagnostik untuk mencari etiologi atau penyebab gangguan serta
rencana terapi yang diajurkan harus kembali kepada tujuan hidup manusia
semula, bukan mengembalikan klien kepada kepentingan dan kenyamanan
pribadi tetapi untuk kemuliaan Allah dan ketaatan kepada kehendakNya,
terlepas apakah itu menyenangkan atau tidak menyenangkan bagi klien.
Mengembalikan gangguan yang dialami manusia kepada
tujuan hidupnya semula berarti menempatkan kembali manusia kepada natur
aslinya yang akan membawa kepada kebahagiaan, kepuasan, kenyamanan yang
sesungguhnya, dan pemenuhan diri yang tertinggi. Seperti sebuah motor
yang didesain oleh pabriknya dengan perhitungan dan uji coba yang
matang, ukuran ban yang normal yang akan membawa kenyamanan berkendara
yang prima adalah 2.75. Namun jika seseorang dengan sengaja mengubah
ukuran standar 2.75 menjadi lebih besar atau lebih kecil dan tipis
seperti ban sepeda balap maka motor tersebut tidak dapat melaju dengan
kencang dan pengendara tidak akan merasakan kenyamanan yang prima ketika
berkendara. Apa yang dilakukan ini dapat mengakibatkan kehancuran fatal
dari roda kendaraan ketika melewati sebuah lubang yang besar. Hal yang
sama juga dapat terjadi dalam kehidupan manusia. Meskipun penempatan
kembali tujuan hidup manusia kepada natur aslinya akan membawa
kebahagiaan dan kepuasan yang tertinggi, namun hal itu bukanlah tujuan
utama manusia. Kebahagiaan tersebut hanyalah akibat sampingan dari
tujuan hidup yang mulia.
Namun yang menjadi masalah kemudian adalah paradoks antara natur manusia yang sesungguhnya dengan
fakta kehidupan sepanjang zaman. Manusia tidak lagi mencari kemuliaan
Allah namun lebih mengutamakan mencari kemuliaan diri seperti yang telah
dijelaskan sebelumnya (Rom. 3:11). Hal inilah yang akan menyulitkan
psikologi Kristen dalam praktiknya maupun penerapannya. Sekali lagi kita
perlu kembali kepada Alkitab untuk mencari solusi atas kesulitan ini.
Roma 7:14-20 menyatakan bahwa kecenderungan manusia untuk mencari
kemuliaan diri adalah karena manusia telah jatuh kepada pemerintahan
dosa. Kuasa dosa ibarat raksasa yang kuat mencengkeram manusia supaya
manusia tidak hidup untuk Allah. Semua manusia jatuh ke dalam perbudakan
dosa tanpa terkecuali (Pkh. 7:20). Namun satu hal yang dapat
menimbulkan ucapan syukur yang tiada hentinya sebagaimana diungkapkan
pula oleh rasul Paulus (Rom. 7:25), yaitu kematian Kristus di atas salib
telah menghancurkan keadaan tersebut (Rom. 8:1-2). Melalui salib
Kristus, seseorang diubahkan dan dibawa kembali kepada naturnya yang
semula, yaitu tidak lagi hidup untuk daging (kemuliaan diri) namun hidup
untuk Allah (Rom. 8:3-15).
Salib
Kristus bukan hanya memampukan seseorang untuk hidup bagi Allah tetapi
juga membawa kita kepada persekutuan dengan Allah dalam segala
kelimpahannya (1Yoh. 1:3). Kepuasan dan pemenuhan yang tidak pernah
terpenuhi ibarat orang yang selalu haus dan tidak terpuaskan rasa
dahaganya. Dahaga kehausan hanya terpuaskan ketika berjumpa dengan salib
Kristus yang mulia (Yoh. 4:14) dan orang tersebut tidak akan terganggu
kembali dengan rasa hausnya. Kesimpulan dari semua ini adalah hanya
salib Kristus yang mampu memotong “lingkaran setan” dari gangguan
psikologis yang tidak pernah ada hentinya. Dengan salib Kristus
seseorang bisa mencapai kepuasan tertinggi sehingga semua orang akan
berkata-kata seperti yang Paulus katakan, “Bagiku hidup adalah Kristus
dan mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya dan persekutuan dalam
penderitaanNya di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematianNya”
(Fil. 1: 21 dan 3: 10).
KEPUSTAKAAN :
Corey, Gerald. Theory and Practice of Counseling & Psychotherapy. California: Brooks/Cole, 2005.
Davidson, Gerald C, et. al. Abnormal Psychology. New Jersey: John Wiley & Sons, 2004.
Weiten, Wayne. Psychology: Themes & Variations, 3rd ed. California: Brooks/Cole, 1989.
Welch, Edward T. Kecanduan: Sebuah Pesta dalam Kuburan. Terjemahan; Surabaya: Momentum,
2001.
Williamson, GI. Katekismus Singkat Westminster. Terjemahan; Surabaya: Momentum, 1999.
Sumber: http://www.perkantassulsel.org/index.php?g=articles&id=42

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *