Lifestyle,  Personal Growth

Gaya Hidup Super Sibuk yang Melelahkan

erikasinaga.com

Disclaimer: membaca tulisan ini bisa membuatmu kelelahan 🙂

Sejauh memori yang bisa aku ingat dari kecil, aku adalah orang sibuk dan sangat suka sibuk. Bukan karena rajin, tapi merasa bersalah aja kalau harus mager dan santai.

Walau tanpa disadari sering juga rebahan sampai lupa waktu, tapi percayalah aku sangat benci mendapati diri tidak produktif. Nggak heran sih, multitasking menuju nggak bisa fokus adalah nama tengahku yang lain, selain cerewet tentu saja 😀

Sini duduk bareng biar aku ceritakan apa yang kulakukan dengan semua kesibukan sejak dini:

  • dari SD sudah sibuk pulang sekolah jaga kios mamak sambil belajar atau bikin PR, dengerin lagu Westlife, kalau sudah sore memasak untuk keluarga. Weekend sibuk latihan untuk berbagai acara sekolah minggu, apalagi dari November-Desember (Dibanding anak lain yang harus ke ladang, dll aku masih dianggap pemalas 🙁 )
  • SMP pulang sekolah beberapa kali seminggu les, sampai rumah jaga kios mamak sambil belajar atau bikin PR, memasak, tentu masih dengerin Westlife haha
  • SMA udah ngekos, pulang sekolah pelayanan siswa, abis itu bimbel, malam hari PR dan cengkerama sama teman kos. Jangan lupakan semua cucian, beresin kamar dll ya namanya anak kos
  • Kuliah S1, pulang kuliah pelayanan kampus dan sering sampai malam, pulang ke kos tugas Psikologi itu segambreng sampai begadang-begadang
  • Kerja di Medan, pulang kerja pelayanan gereja sampai malam, sampai kos tepar
  • Kuliah S2 di Jakarta, pagi sampai sore kuliah, sore sampai malam kerja ngajar bimbel, malam sampai pagi nugas segambreng, di sela-selanya jualan produk LOL

Dari semua rincian di atas, ini beberapa dampak yang aku rasakan secara pribadi:

Dua kata guys: AKUUUUUUU LELAAAAHHHHHH!!!!

Sorry teriaknya kencang banget 😀 Tapi beneran itu yang aku rasakan sih. Capek banget, semua istirahat yang dilakukan rasanya nggak berarti gitu, lelah mental 😀 Apa itu merawat diri?

Nggak heran kamar kos selalu berantakan, kapan beresinnya oi. Senin sampai Minggu hari-hariku penuh dengan kesibukan nggak habis-habis!

Dalam satu momen konseling pribadi di kampus S2, konselor nolong banget untuk aku memahami semua kelelahan karena kesibukan ini. Plus satu fakta yang menyedihkan, selain sibuk dari kecil aku juga kurang bermain, sedih banget nggak sih :'(

Aku nangis kejer loh menyadari hal ini, flashback melihat diri sendiri dari kecil ko memang jarang main ya. Kasian gitu sama diri sendiri. hahahhaha

Konselor sampai menganjurkan aku untuk mencoba lebih playful, dengan sengaja menciptakan momen bermain yang menyenangkan atau menikmati permainan.

Sejak saat itu aku mencoba lebih enjoy media bermain seperti ayunan, boneka, cobain arena permainan di taman bermain, ikut meriah kalau lagi ada permainan seru dengan teman-teman

Awalnya aku jarang bermain karena memang harus jaga kios mamak kan, jadi baru aja main uda dipanggil pembeli. Siapa coba yang betah main kalau sedikit-sedikit aku tinggal?

Jadinya aku penonton doang biasanya kalau anak lain lagi main. Lama-lama aku malu kalau diliatin main, kalau melakukan kesalahan rasanya terlihat bego -_- Kebawa loh sampai aku gede.

Udahlah kurang bermain dari kecil, selalu sibuk dengan aktivitas pula, lengkaplah sudah kelelahan dalam hidup yang fana ini. Kemana-mana rasanya nggak plong dan bawa beban, seserius itu sih kalau selalu sibuk dan kurang bermain.

Aku jadi curiga, sebenarnya temenan sama aku itu asyik nggak sih? Ko rasanya nggak asyik ya punya teman kurang bermain dari kecil dan sibuk melulu

Karena selalu sibuk dan kejar-kejaran dengan waktu, aku jadi jarang menikmati apa yang aku lakukan. Semua dilakukan hanya untuk satu kata: selesai!

Tapi apa makna di balik aktivitas, perasaan apa yang muncul saat melakukannya, seberapa maksimal, seberapa besar usaha yang diberikan, aku mengabaikan itu semua. Ngga ada energi buat mikirin

Pelan tapi pasti aku mulai kehilangan makna dari semua yang aku lakukan, mulai bingung sebenarnya apa sih yang aku sukai, hobiku apa? Kenapa semua rasanya hambar dan melelahkan? Mungkin membaca tulisan inipun kalian bisa ikut merasakan kelelahannya kan?

Walaupun sepanjang perjalanan hidupku aku berusaha melakukan semua aktivitas untuk Tuhan dan bukan manusia, tapi secara jujur ternyata aku gagal memaknainya. Seolah Tuhan tuh senang kalau aku lakuin banyak banget untuk Dia tapi melupakan diriku sendiri dan makna di balik semua yang aku lakukan

Bahkan ketika ibadah di gereja, saat teduh, berdoa,sering sekali terjebak dalam satu kata: selesai! Yang penting sudah dilakukan! Dimana kenikmatan membangun relasi dengan Tuhan? Rasanya hambar banget.

Tuhan baik tapi, ada banyak momen dimana aku ditolong dan berhasil mulai mau duduk tenang dan diam dalam kesadaran bersama Tuhan, di momen itu biasanya aku disegarkan kembali untuk bisa melangkah, lalu apa? YA SIBUK LAGI, LELAH LAGI LOL Begitu terus siklusnya sampai dewasa tapi tetap imut bin amit!

Kalau aku analisa, semua kelelahan itu kulakukan untuk menyenangkan hati orang di sekitar, mendapatkan pengakuan, sehingga aku lupa untuk memperhatikan perasaan dan kemauanku sendiri. Sebagai anak pertama wajar sih, kebutuhan untuk dipandang sebagai HERO itu besar banget.

Aku terlalu ingin dipandang sebagai seseorang yang mantap karena bisa produktif dan menyelesaikan banyak hal sekaligus, hebat bisa semandiri itu dan kerenlah pokoknya

Aku anak hebat karena baik mau jagain kios mamaknya, masak, dan tetap berprestasi di sekolah ;’) Aku hebat karena pengurus di pelayanan sibuk banget tapi prestasi sekolah dan kampus tetap bagus :’) Aku hebat karena bisa kerja tapi tetap sibuk di pelayanan :’) Aku hebat karena S2 sambil kerja dan jualan produk :’)

Di satu titik aku memutuskan untuk berubah, mulai memikirkan makna dari semua yang kulakukan.  Mulai bertanya, sebenarnya Tuhan tuh mau aku lakukan apa sih? Apa sih hal yang penting banget dan harus dilakukan, dan mana yang sebenarnya ngga penting banget dan bisa dilepas? Belajar lebih peduli dengan mental sendiri daripada sekedar dianggap hebat oleh orang lain

Sesederhana kalau lagi nulis paper, topik apa yang kusukai dan menuliskannya akan menimbulkan sukacita daripada mikir topik apa yang heboh? Hal apa yang menyenangkan dan aku suka melakukannya untuk diriku sendiri tanpa peduli orang lain melihatnya atau tidak? Seberapa besar waktu yang aku butuhkan untuk me time, istirahat dan bersantai memulihkan energi?

Aku lakukan semuanya sepuas yang aku bisa hahahahha Aku atur waktu supaya di kamar kos bisa leyeh-leyeh tanpa rasa bersalah. Atur waktu supaya bekerja sesuai jam kantor dan tidak lembur jika tidak urgent. Mulai mengenali lagi hobi-hobi yang menyenangkan. Menggali lagi potensi diri yang tidak sempat digali karena sibuk. Intinya aku bercakap-cakap dan mendengarkan diriku lebih banyak <3

Aku belajar untuk menyederhanakan hidupku dengan kembali memikirkan apa sih core value yang kupegang. Seteleh menemukannya, aku mulai memilah aktivitas yang sesuai core value saja. Memangkas beberapa yang tidak sesuai yang tentunya menuai protes dari berbagai pihak 😀 Tapi aku sudah memilih, jadi kudu siap dengan resikonya!

Sekarang rasanya lebih tenang, enjoy moment, fokus melakukan hal-hal yang disenangi dan membuatku merasa bertumbuh. Aku tidak harus selalu sibuk, karena waktu bersantai adalah hak semua umat manusia. Ada resiko dari keputusan ini karena melepas beberapa peluang yang kelihatannya menggiurkan. Tidak masalah, mencoba meyakini pilihan ini dan terus menjalaninya dengan pengharapan.

Semoga kalian bisa memahami isi tulisan random ini ya, arahnya kemana-mana karena jujur menuliskannya sembari mengantuk.. huhuhuh Kalau rajin aku akan mengeditnya supaya lebih enak dibaca… Semoga kalian semua juga pelan-pelan melepas kesibukan yang sebenarnya nggak perlu ya. Menikmati hidup hari demi hari dengan lebih bermakna 🙂

Luvv,

Erika

5 Comments

  • Reyne Raea

    Saya malah bahagia bacanya, hahahahaha.

    Kalau saya, bermalas-malasan itu yang melelahkan.

    Saya nggak bisa tidur lelap kalau kamar kotor dan berantakan, nggak bisa tidur kalaumasih ada deadline melanda.
    Kebawa mimpi kalau belum menyiapkan bekal untuk dikerjakan keesokan harinya.

    kayaknya saya butuh psikolog deh, terlalu lebay nih saya, hahahaha

    Etapi, semua karena masa kecil saya dipingit sih, saya semacam sudah menantikan masa bebas melakukan banyak hal setelah sekian lama terkungkung disuruh belajar mulu di rumah 😀

    • Erika H Sinaga

      Wowww demi apa dikomen mbakkkk Reyyyy, mimpi kali gue ahhahahahha
      Mba monmaap tapi serius aku kagum kamu ngeblog tiap hari, sampai ngerasa ngga masuk akal -_-
      Ternyata begitu toh ceritanya, akhirnya nemu jawaban..

      Sejauh nggak bikin anxiety dan mengganggu fungsi hidup mah ngga apa-apa mbak, tapi kalau uda sampai ganggu banget mungkin perlu konsul..
      Biar lebih paham aja apa yang mendasari perilaku itu, jadi ke depan bisa lebih ditanggulangi..
      Kasian juga mbaknya kalau jadi sulit tidur dengan damai, padahal tidur tuh nikmat banget lol

      Semangat terus ya mbaaaa….

  • Mayuf

    Iya, walau terlalu santai juga nanti gak ada kemajuan tapi terlalu sibuk dan banyak aktifitas juga kurang baik karna bisa lelah dan jadi kurang istirahat ,jadi ya harus pinter bagi waktu aja kalo aku si gtu hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published.