Uncategorized

Rangkuman Buku Pastoral Konseling oleh Yakub Susabda, Ph.D. (Jilid I)

 

Judul Buku : Pastoral Konseling: Pendekatan Konseling Pastoral Berdasarkan Integrasi Teologi dan Psikologi

Jumlah Halaman : 331 halaman

Penerbit : BPK Gunung Mulia

Cetakan : I

 

BAB I

APA ITU KONSELING PASTORAL

Dengan perkembangan ilmu psikologi dan psikiatri yang begitu pesat, pelayanan konseling yang tadinya dikenal sebagai salah satu pelayanan yang dilakukan oleh hamba Tuhan, sekarang terbuka untuk umum. Istilah yang digunakan tetaplah pastoral konseling, yang memiliki defenisi percakapan terapeutik antara konselor (atau pastor/pendeta) dengan konsele/kliennya, di mana konselor mencoba membimbing konselenya ke dalam suatu suasana percakapan konseling yang ideal (conducive atmosphere) sehingga klien dapat memiliki kesadaran diri dan pengertian akan kejadian dan situasi yang sedang dihadapinya.

Pelayanan konseling bukanlah pemberian nasihat, hal ini masih sering salah dipahami oleh para hamba Tuhan maupun konselor secara umum. Dalam proses konseling sering sekali hamba Tuhan dan konselor lebih banyak memberikan nasihan yang dirasakan sesuai dengan kondisi klien, padahal sering sekali nasihat yang diberikan tidak menyelesaikan apapun dalam diri klien. Yang sebenarnya, konseling adalah hubungan timbal balik yang dialogis dalam percakapan terapeutik antara konselor dengan konsele. Dalam hal ini konselor harus banyak mengembangkan skill konseling yang mumpuni untuk dapat menolong klien secara efektif.

Kegagalan dalam proses konseling tak jarang terjadi akibat konselor yang melakukan proses konseling tanpa tanggungjawab. Seyogyanya seorang konselor yang merupakan hamba Tuhan harus menyadari bahwa panggilan menjadi konselor adalah panggilan spiritul yang unik, sehingga dalam mengerjakan pelayanan konseling seorang hamba Tuhan harus rela mengorbankan dirinya untuk dipakai Tuhan. Namun sering sekali para hamba Tuhan menganggap enteng pelayanan konseling, padahal pelayanan konseling adalah pelayanan terberat bagi hamba Tuhan. Karena tidak hanya dituntut untuk mengajar, tetapi juga mendemonstrasikan iman, pengetahuan, kepribadian, kepekaan, kemurnian hati, kesabaran dan sebagainya.

Konselor harus menciptakan suasana percakapan yang ideal antara konselor dengan klien, supaya proses konseling dapat dinyatakan berhasil. Yaitu konsele harus memiliki kesadaran, kemauan, dan tekad untuk menyelesaikan persoalannya dan memiliki keberanian untuk mencapai kepenuhan hidup sebagai orang beriman yaitu iman kepada Yesus. Kehidupan yang dimiliki konsele setelah melalui masa konseling haruslah kehidupan sesuai kehedak dan rencana Allah baginya sebagai orang percaya.

 

BAB II

MENGAPA KONSELING PASTORAL PERLU DIPELAJARI

            Pemahaman para hamba Tuhan mengenai pastoral konseling sering sekali keliru, sehingga pelayanan ini dilaksanakan tanpa tanggung jawab, undiciplined dan unskilled. Masalah yang dialami klien yang seharusnya dapat diselesaikan, malah bertambah runyam dibanding sebelum menjalani proses konseling. Maka dari itu para hamba Tuhan sangat perlu untuk mempelajari tujuan dan skill pastoral konseling yang sebenarnya, sehingga tidak terjadi masalah-masalah yang sama ke depannya.

Para hamba Tuhan sering sekali mengabaikan pelayanan konseling, pelayanan dititik beratkan kepada pelayanan khotbah dan organisasi di gereja tempatnya melayani. Karena kedua hal tersebut merupakan pelayanan yang paling banyak memberikan keuntungan pribadi kepada hamba Tuhan, sedangkan pelayanan konseling pastoral belum menjanjikan hal-hal yang menguntungkan, apalagi jika dilakukan dengan proses yang benar, merupakan pelayanan paling berat dari hamba Tuhan. Sehingga pelayanan konseling sering dilakukan secara asal oleh hamba Tuhan, tanpa menyadari tugas utamanya sebagai hamba Tuhan adalah membimbing jemaatnya langkah demi langkah sehingga semakin dewasa secara rohani. Hal ini tidak dapat dicapai hanya dengan khotbah saja.

Tanpa pengetahuan yang cukup, hamba Tuhan tidak akan tahu kapan ia harus berdoa, memberi nasihat, memberikan bantuan yang konkret, atau mengirimkan konsele kepada profesional lain. Maka dari itu mereka perlu memperlengkapi diri sehingga memiliki pengetahuan yang cukup untuk memahami setiap kondisi konsele yang unik dan berbeda dari satu orang ke orang lainnya. Hamba Tuhan tidak dapat menyamaratakan perlakuan terhadap setiap konsele, karena kebutuhan setiap orang berbeda-beda sesuai dengan kondisinya. Kegiatan di gereja tidak akan pernah mampu menjangkau kehidupan pribadi dari jemaat, maka hamba Tuhan harus menyentuh pribadi jemaatnya melalui konseling secara pribadi demi pribadi.

Pelayanan konseling relatif baru sehingga belum ditemukan pelayanan yang sesuai dengan konteks kehidupan gereja di Indonesia. Para hamba Tuhan sering sekali mengadopsi metode-metode yang dilakukan oleh profesional sekuler tanpa memperhatikan kesesuaiannya dengan konteks kehidupan gereja, sehingga terdapat masalah yang merusak di dalam tubuh gereja. Sangat sedikit hamba Tuhan yang dapat mengintegrasikan antara ilmu psikologi dengan teologi dalam pelayanan konselingnya, mereka cenderung berada di salah satu ekstrim saja, apakah dominan psikologi atau dominan teologi saja.

 

BAB III

APA YANG MEMBUAT KONSELING PASTORAL

UNIK DAN TIDAK SAMA DENGAN KONSELING SEKULER?

Konseling pastoral merupakan pelayanan konseling yang unik karena pelayanan hamba Tuhan dipercayakan oleh Allah sendiri, sikap para hamba Tuhan yang percaya bahwa pelayanan yang dipercayakan kepadanya berasal dari Allah justru menjadi keunikan dari pelayanan ini. Tanpa kepercayaan ini, hamba Tuhan akan melakukan pelayanan ini seperti konseling sekuler, maka dari itu pastoral konselor harus mengenal keunikan pelayanan konselingnya sendiri sehingga menyadari implikasi dan aspek unik dari pelayanan yang telah dipercayakan oleh Allah kepadanya.

Konseling pastoral juga mutlak bergantung pada kuasa Roh Kudus, konselor tidak pernah sendiri dalam pelayanannya karena Roh Kudus selalu menyertai. Sayang sekali, kehadiran Roh Kudus dalam banyak hal masih diragukan bahkan belum betul-betul dimengerti apalagi dialami oleh hamba-hamba Tuhan dalam pelayanan konselingnya. Dengan kehadiran Roh Kudus dalam pelayanan konseling pastoral, maka konselor akan mengalami kuasa Roh Kudus sebagai sumber new insight (sumber dari munculnya pemikiran, pengertian dan kesadaran baru) atas kedalamanmisteri kehidupan manusi di balik persoalan-persoalan konselenya; sumber munculnya kata-kata yang tepat pada saat yang tepat,dan harapan baru dalam diri konsele.

Firman Tuhan juga adalah dasar dari pelayanan konseling pastoral, konselor harus memiliki kepercayaan bahwa Alkitab adalah firman Allah yang tertulis, sebagai standar kehidupan orang percaya dan standar mutlak dalam menilai tingkah laku manusia. Namun kepercayaan yang dimiliki konselor terhadap otoritas Alkitab tidak membuat konselor untuk menolak kebenaran natural yang disediakan Allah untuk melengkapi kehidupan manusia. Karena individu yang memutlakkan Alkitab sebagai satu-satunya kebenaran sering sekali menolak sumbangan dari general revelation misalnya psikologi.

Konselor pastoral juga harus mengakui adanya sumbangsih ilmu psikologi yang memiliki integrasi dengan teologi dalam pelayanan konseling. Hamba Tuhan harus memiliki kemampuan berpikir dengan pikiran teologi yang sehat dan benar,dan juga belajar ilmu psikologi untuk melengkapi pelayanan konselingnya. Jadi jelas bahwa yang paling utama adalah kebenaran melalui ilmu teologi, lalu dilengkapi dengan ilmu psikologi supaya hamba Tuhan dapat memahami manusia dan perilakunya.

BAB IV

SUMBANGAN PSIKOLOGI DALAM KONSELING PASTORAL

Psikologi sudah menjadi kuliah wajib bagi kebanyakan sekolah teologi, namun masih dipandang sebagai pengetahuan umum saja, yang tanpa menyadari bahwa psikologi merupakan ilmu yang vital dalam melakukan konseling pastoral. Banyak hamba Tuhan yang tidak menerima ilmu Psikologi dengan berbagai alasan, namun harus disadari bahwa psikologi menolong mereka untukmendapatkan informasi dan pengetahuan tentang gejala kejiwaan yang melatarbelakangi tingkah laku manusia pada umumnya.

Konseling menuntut suatu disiplin yang berbeda dari mata kuliah teologi praktika pada umumnya. Kegagalan untuk memanfaatkan sumbangan ilmu Psikologi menyebabkan hamba-hamba Tuhan hanya memaksakan disiplin dari bagian teologi sehingga klien sering sekali diberikan khotbah dan nasihat yang tidak menyelesaikan masalah. Mereka harus menyadari bahwa pengetahuan psikologi akan menolong mereka dalam pelayanan pastoral konseling, sehingga mereka tahu membedakan tingkah laku yang normal dan tidak normal dari orang-orang yang harus menjadi tanggungjawab mereka. Mereka dapat memahami jenis mekanisme pertahanan diri yang sering sekali dipakai oleh klien untuk melindungi dirinya.

Hamba Tuhan adalah posisi yang strategis karena sering sekali orang pertama yang ditemui ketika memiliki masalah adalah hamba Tuhan, dengan berbagai masalah dan kondisi yang ada dalam diri masyarakat khususnya jemaat. Masyarakat pada umumnya masih memiliki gambaran negatif mengenai psikiater dan rumah sakit jiwa, sehingga belum mampu melihat faedah dan hasil positif dari psikiater dan rumah sakit jiwa tersebut.

Ada banyak teori psikologi yang sangat baik dalam menjelaskan perilaku manusia, para hamba Tuhan perlu memahami teori-teori ini supaya memiliki pengetahuan dalam menilai perilaku para jemaat dan juga hamba Tuhan lainnya. Karena manusia sering sekali memiliki konsep diri yang keliru mengenai dirinya sendiri dan itu pula yang sering sekali menjadi sumber kegelisahan dan kekhawatiran dalam kehidupannya secara terus menerus.

Para hamba Tuhan juga perlu memahami faktor-faktor penyebab yang mendorong terjadinya berbagai permasalahan dalam diri klien, sehingga dapat memahami dan menolong klien dalam memahami masalah dan menyelesaikannya secara mandiri. Tanpa skill yang baik dari konselor, tanpa pengenalan faktor-faktor pencetus, konselor akan gagal dalam memahami dan mengarahkan proses konseling dengan benar. Konselor akan cenderung mengikuti arah yang ditentukan oleh klien, tertipu dengan fenomena yang ditunjukkan oleh klien, sehingga tujuan konseling tidak tercapai.

 

BAB V

LATIHAN PRAKTIS KONSELING

Para hamba Tuhan sangat perlu untuk berlatih menjadi seorang konselor pastoral yang profesional, selama ini pengajaran mengenai konseling masih sering di anak tirikan dan pengajar masih sangat kurang. Dan mata kuliah ini dapat diambil oleh seluruh angkatan, padahal dibutuhkan kemampuan dasar teologi Alkitab dan psikologi untuk dapat berlatih menjadi seorang konselor pastoral yang profesional.

Latihan praktis yang dapat dilakukan oleh para calon konselor pastoral antara lain:

  1. Latihan sensitivitas, untuk melihat sejauh mana para konselor peka terhadap situasi klien. Latihan ini dapat dilakukan dengan menganalisis cara berpikir klien dengan melihat tahap conscious, preconscious, dan unconscious pada diri klien. Latihan lainnya dapat dilakukan dengan diskusi kelompok dan menganalisis kasus-kasus konseling. Dalam diskusi kelompok dapat dilakukan film talk back, menganalisis cerita, saling menganalisis kawan, dan lainnya. dol
  2. Latihan membuat/menulis verbatim, yaitu menuliis catatan lengkap detai, kata demi kata, dari percakapan konseling. Sangat dibutuhkan untuk untuk melatih calon konselor supaya mulai membiasakan diri dengan prinsip dan disiplin konseling yang sehat. Fokus utama dari latihan ini adalah refleksi, yaitu kemampuan untuk menangkap perasaan di balik kata-kata konsele dan merefleksikan dalam kata-kata yang sederhana.
  3. Latihan mengklasifikasi kasus-kasus konseling, yaitu latihan untuk mengenali apakah kasus yang dialami klien dapat diatasi oleh konselor atau membutuhkan kerjasama dengan profesional lainnya. Dengan melihat apakah kasus tersebut termasuk abnormalitas atau tidak, short-term atau long term counseling, genuine client atau pseudo client, dan lainnya.
  4. Latihan menangani kasus-kasus konseling sesungguhnya, mahasiswa konseling harus berlatih menangani kasus-kasus sebenarnya dalam praktek-praktek konseling yang disupervisi oleh dosen yang profesional. Latihan ini dapat dibagi menjadi 3 bagian praktikum yang diyakini dapat menolong calon konselor untuk berlatih menjadi konselor yang profesional.

Dengan latihan-latihan di atas, seorang calon konselor dapat dipersiapkan dengan baik untuk menjadi konselor yang qualified dan siap untuk melayani para konsele dengan tidak fokus pada pemberian nasihat dan melakukan konseling dengan tidak bertanggungjawab.

 

Terimakasih.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *