Mental Health,  Personal Growth

Hidup Dalam Bayang-Bayang Harapan Orang Tua

@erikasinaga10

Video mengandung bawang #fyp #orangtua #fypdonggg

♬ Yang Terbaik Bagimu – Jangan Lupakan Ayah – Ada Band

Tulisan ini bisa kamu dengarkan via podcast Mindful Talks di Spotify atau  Apple Podcast

Halo kamu yang hidup dalam bayang-bayang harapan orang tua, masih kuat? Lambaikan tangan ke kamera kalau udah mau nyerah :’) Mungkin kamu sedang bergumul karena ingin membanggakan orang tua,  merasa kesulitan untuk membuktikan kepada mereka bahwa pilihanmu benar

Jangan merasa sendiri ya! Banyakkk banget populasi orang yang sering merasa sedih bahkan stress karena merasa tidak memenuhi ekspektasi orang tua. Tentu saja ini tidak hanya terjadi sekarang, tapi sudah bertahun-tahun bahkan sejak kecil. Aku ketemu banyak klien yang putus asa karena di usia dua puluhan ko merasa belum mencapai apa-apa. Berulang kali mengalami kegagalan besar, bahkan peluang yang dijalani sekarang pun,  juga kelihatan menakutkan karena berpotensi mengalami kegagalan lagi

Kebayang nggak sih hidup penuh tekanan dan ketakutan seperti ini? Tidur nggak tenang, makan nggak enak, bawaannya cemas terus. Gimana mau konsentrasi belajar atau bekerja? Ternyata kalau diselidiki lebih jauh, keadaan mereka nggak seburuk itu ko. Hanya kurang bisa menghargai apa yang sudah dicapai aja, karens terus menerus berfokus kapada kegagalan di masa lalu dań ekspektasi yang belum tercapai

Misal nih, udah lulus sarjana, bekerja beberapa tahun, dan selama ini selalu membantu keuangan keluarga. Tapi kalau ditanya apa yang sudah dicapai selama ini, selalu jawabnya nggak ada. Semua dikali nol karena apa yang Sudan dicapai, dianggap sebagai suatu kewajaran. Ah semua orang juga bisa ko, nggak ada yang perlu dibanggain dengan itu

Apa iya gelar sarjana bukan sesuatu yang bisa disebut pencapaian? Apa iya bekerja bertahun-tahun dan membantu keuangan keluarga bukan sesuatu yang pantas untuk dihargai? Memangnya benar semua orang bisa mencapai itu? Apa iya kalau semua orang juga bisa nggak boleh disebut pencapaian?

Kesulitan untuk menghargai apa yang dicapai sangat wajar terjadi bagi kamu yang jarang mendapatkan pengakuan dan affirmasi dari orang tua. Hal seperti ini memang sangat membudaya di Indonesia, dimana orang tua sangat cepat  tanggap dalam memarahi dan menegur kesalahan anak, tapi enggan dan gengsi memberikan pujian serta affirmasi positif. Ups, nggak semua sih tapi kebanyakan

Alasannya: ” ah nanti besar kepala, sombong dan cepat puas,” “itu kan cara orang tua memberikan motivasi ke anak”

 

 

Percayalah seringkali mereka melakukannya didasarkan pada ketidakmengertian akan pola asuh yang benar, kurangnya edukasi dari kakek nenek bagaimana memperlakukan anak dengan efektif. Edukasi parenting dulu kan nggak seramai sekarang, sekarang gampang di internet ratusan ribu artikel bisa diakses secara gratis

Prinsip orang tua seperti ini membuat anak bertumbuh dengan haus akan pujian, berusaha membuktikan ke orang tua kalau kamu mampu dan bisa membanggakan mereka. Tapi ko pencapaian demi pencapaian sudah dilalui, pujian dan pengakuan nggak kunjung datang? Malah hidup terus berjalan dari satu tuntutan kepada tuntutan lainnya, dan harapan orang tua semakin tinggi seiring berjalannya waktu. Harus juara kelas, masuk sekolah favorit, universitas bergengsi, pekerjaan gaji tinggi, menikah, punya anak dst. Berhasil mencapai satu hal, artinya mulai lagi dengan target yang baru. Kapan selesainya?

Kalau dibayangkan rasanya melelahkan, aku bertemu dengan orang-orang berpotensi tapi merasa diri gagal. Seolah apa yang dicapai selama ini ngga ada artinya, seberapa banyakpun orang yang meyakinkan dia sudah melakukan yang benar rasanya nggak berguna. Kenapa? Karena yang paling diharapkan adalah pujian orang tua, tapi lagi-lagi mereka tidak pernah memberikan konfirmasi bahwa apa yang diusahakan selama ini cukup

Belum lagi tuntutan standar sosial dimana anak harus berbakti, membahagiakan orang tua kelak dan di masa tua mereka harus melakukan yang terbaik. Tapi sampai di titik mana? Menjadikan kebahagiaan orang lain (walaupun itu orang tua) sebagai dasar melangkah dan mengisi kehidupan hanya akan berakhir pada kekecewaan. So sad but true~

Ditambah lagi prinsip bahwa sebesar apapun usaha anak untuk membahagiakan orang tua tidak akan pernah cukup membayar apa yang sudah dilakukan orang tua ke anak. Lah, emangnya dari awal hubungannya bukan transaksional kan? Hubungan anak orang tua bukan seperti itu, sejak awal orang tua murni merawat dan membesarkan anak karena rasa cinta dan tanggungjawab. Maka ketika anak dewasa, mereka tidak harus dibebani dengan prinsip “membayar hutang” kepada orang tua

Percaya nggak percaya, ada loh orang tua yang mencatat semua pengeluaran sejak anak lahir sampai dewasa, lalu memberikan anak catatan hutang sejumlah uang yang dia keluarkan. Wow, luar biasa ya. Aku pernah liat videonya viral di twitter, tapi sampai lelah ubek-ubek aku nggak nemu lagi tuh video. Ada yang tau videoya nggak? Komen di basah dong linknya 🙂

Lalu bagaimana caranya orang tua tidak menjadi beban anak? Idealnya ya dengan mempersiapkan dana pensiun sejak awal, walaupun pada realitanya ini sulit ya apalagi dengan kebutuhan hidup yang sangat tinggi. Tapi minimal dengan mindset bahwa anak tidak “harus” membahagiakan orang tua akan sedikit meringankan beban. Kamu merawat orang tua karena kamu sayang dan cinta, kamu “memilih” merawat karena kamu rela, bukan terpaksa dan harus karena prinsip “bayar hutang”

Ini rada sulit diterima karena belum membudaya, bisa-bisa aku dianggap anak durhaka karena menyebarkan pemikiran ini haha Tapi nggak ko, aku serius masalah ini. Perlakuan kita terhadap orang tua akan sangat berbeda kalau didasari rasa kasih dibandingkan dengan sekedar membayar hutang

Kasus lain, banyak orang tua yang memiliki ambisi yang sangat tinggi supaya anak bisa mencapai hal yang tidak bisa mereka capai di masa lalu. Anak dituntut mencapai apa yang ingin mereka capai, memenuhi ego dan menaikkan harga diri orang tua. Ini salah besar! Menitipkan harga diri dan rasa bahagia kepada orang lain lagi-lagi akan berakhir pada kekecewaaan! Anak punya pilihan sendiri dan orang tua perlu menghargai itu. Dannn, orang tua juga harus memiliki sumberi kebahagiaannya sendiri loh

Lalu harus bagaimana menghadapi harapan dan standar orang tua yang terlalu tinggi? Berikut beberapa tips yang bisa coba kamu lakukan:

  • Sadari bahwa perasaan gagal membahagiakan orang tua itu terlalu menyakitkan, perasaanmu valid ko. Jadi nggak perlu menekan perasaan itu lebih lama ya 🙂
  • Kamu harus tau tujuan hidupmu dan kehidupan seperti apa yang ingin kamu jalani dengan jelas. Dengan mengetahui tujuan dan standar hidup yang ingin dijalani, kamu bisa menentukan apa yang kamu mau dan progress seperti apa yang ingin kamu capai dalam waktu tertentu. Jadi standarnya sudah berasal dari dirimu sendiri, bukan dari orang tua. Evaluasinya juga akan jauh lebih mudah loh. Kalau kamu sendiri belum tau apa yang kamu mau, sulit untuk diskusi dengan orang tua mengenai kesulitan yang kamu rasakan
  • Kalau sudah punya tujuan, miliki keberanian berdiskusi dengan orang tua, sebenarnya kenapa mereka menuntut kamu akan banyak hal? Apa yang mendorong mereka? Apa yang mereka harapkan? Apa yang mereka takutkan? Lakukan dengan kepala dingin ya, kalau nggak bisa berakhir dengan keributan
  • Mengakui kalau kamu lelah dengan tuntutan orang tua. Lalu bisa menyamakan persepsi apa yang kamu mau dengan apa yang mereka mau. Proses ini nggak mudah, terutama untuk kamu yang jarang deep talk dengan orang tua. Bisa banget dimulai ya dari hal-hal yang ringan dulu aja. Sesuaikan dengan kesiapan kamu ya, kalau kamu belum siap, gapapa ambil waktu untuk mempersiapkan diri pelan-pelan. Minimal mindset kamu bener dulu, bahwa kebahagiaan orang tua bukan tanggungjawab anak sepenuhnya, semua orang harus berjuang untuk kebahagiaannya sendiri
  • Berani menjalani kehidupan dan berbahagia dengan pilihanmu. Mensyukuri dan menghargai pencapaian demi pencapaian sekecil apapun itu. Kamu berhak bangga dengan semua usaha terbaik yang sudah kamu lakukan, jangan terus berkecil hati ya padahal kamu sudah banyak melakukan progress

Semua memang butuh penyesuaian dan waktu, nggak bisa secepat kilat situasinya langsung berubah. Bahkan mungkin butuh waktu bertahun-tahun sampai orang tua kamu bisa mengerti dengna maksud kamu, jangan langsung putus asa dengan sekali diskusi ya. Orang tua kamu juga butuh waktu untuk memahami hal baru ini. Tapi aku yakin banget, pelan-pelan mereka akan mengerti bahwa kamu adalah seseorang yang independent yang tidak seharusnya terus menerus terkungkung dalam harapan dan impian mereka.

Bagaimana pendapat kamu? Diskusi di kolom komen ya, aku suka mendengar pendapat dan pengalaman kalian. Siapatau kalian punya pengalaman kaya gini dan sudah berhasil melaluinya, share juga tipsnya ya.

Sampai ketemu lagi di tulisan berikutnya

Erika~

4 Comments

  • Mayuf

    Tadinya aku terus semangat berusaha buat bisa bahagiain ortu, tapi semua berubah setelah ibuku berpulang, aku jadi gak semangat terus aku ubah semangatku yang tadinya buat ortu terutama ibu yang sangat berpengaruh dalam semangatku, aku ubah ke masa depanku biar gak down terus”an hehe

    • Erika H Sinaga

      Hai Mayuf, turut berdukacita atas berpulangnya ibu kamu ya. Orang tua memang sering kali menjadi sumber semangat hidup untuk kita, setelah mereka berpulang rasanya hilang sudah semangat itu ya. Keputusan kamu sangat baik, salut kamu bisa mengambil keputusan untuk bangkit dan semangat demi masa depan.. Semoga ke depan semakin sukses ya Mayuf.. 🙂

  • Indy Rinastiti

    Kak, this hits me so hard
    Every point is true. Soooo relatable.
    Aku juga bukan tipe yang bisa deep talk dengan ortu, dan ortu juga begitu.
    Sampai skrg pun ak masih merasa “harus memilih” antara membahagiakan orangtua atau mendapatkan kebahagiaanku sendiri. Karena kebetulan dua opsi itu ngga berpotongan satu sama lain. Dan mereka masih punya harapan besar ke aku. Sampe sekarang ak masih sering bertanya2, what should I do? Apa sih yg harus aku kejar?

    Duh maap kak, jadi curcol, hehehe
    Siapa tau dapet sesi konseling gratis hihihi

    • Erika H Sinaga

      Hai Indy,
      Thank you sudah mau sharing ya..
      Bagi sebagian orang memang sulit banget menyatukan antara harapan orang tua dan kemauan diri sendiri.
      Kita merasa egois banget kalau mengikuti apa yang kita mau.

      Cuma menurutku, harus dilihat case by case ya. Sebenarnya nggak bisa disamaratakan semua
      Misal:
      orang tua udah tua dan berharap dibantu keuangan oleh anak, lalu mereka berharap anak segera bekerja
      si anak pengennya part time yang belum jelas penghasilannya, karena sesuai passion
      menurutku si anak perlu bijak melihat keadaan orang tua dan juga kemauannya, ambil jalan tengah. Kerja full time, lalu passionnya sampingan

      Kira2 kaya gitu maksudnya, aku nggak tau konteks yang kamu alami. Tapi semoga segera menemukan jalan keluar ya
      Mungkin sekarang kamu perlu bener2 tau dulu kamu tujuannya apa, apakah bisa menjawab sebagian keinginan orang tua, apakah beneran ngga ada benang merahnya?
      Take your time ya <3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *