Uncategorized

Loneliness Pada Lansia

 

Kesepian (loneliness) merupakan permasalahan yang kerap dirasakan oleh seseorang. Apabila ditinjau dari segi usia, maka rentang usia yang paling rentan mengalami loneliness adalah lansia. Maike Luhman melakukan penelitian untuk menguji rentang usia yang memiliki kecenderungan loneliness paling tinggi, hasil penelitian Luhman tersebut ditunjukkan melalui diagram berikut ini:

 

 

Diagram di atas menunjukkan bahwa rentang usia dengan kecenderungan loneliness  yang paling tinggi berada pada usia lansia, dengan kecenderungan loneliness yang sangat signifikan dan konsisten sampai di akhir kehidupan. Santrock juga mengatakan bahwa ketakutan akan kesepian adalah gejala yang paling sering muncul pada lansia. Hal ini juga diperkuat oleh penelitian Fujiwara dan kazumi yang menemukan bahwa lansia lebih memilih tinggal di panti jompo dibandingkan tinggal sendirian di rumahnya.

David E. Redburn mengatakan bahwa tingginya loneliness pada lansia disebabkan oleh minimnya social support  sehingga lansia mengalami kesepian yang pada akhirnya akan mengarah pada gangguan kesehatan, ia mengatakan:

The absence of meaningful social support has been identified as one of the most powerful predictors or morbidity and mortality in older adults. For intance, the lack of meaningful social support, has not established a responsive network of friends and family, old age can be a very empty and lonely time.

Salah satu penyebab utama loneliness pada lansia adalah kehilangan pasangan. Dalam menghadapi kematian pasangan hidup, masing-masing individu memiliki tingkat loneliness yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh karakteristik tertentu yang membedakan antara pria dan wanita. Wanita memiliki tingkat loneliness yang lebih tinggi diband­ing pria, hal ini disebabkan karena wanita ketika masih bersama pasangan hidupnya selalu menjalankan aktivitas yang aktif secara bersama-sama, selain itu kondisi ekonomi yang mencukupi dan pengaruh ke­butuhan sosial yang biasa dijalani bersama-sama sekarang tidak bisa lagi dijalani bersama-sama yang menyebabkan wanita lebih membutuhkan orang lain untuk menjalankan kehidupan tanpa pasangan hidupnya untuk berbagi pikiran dan pengalaman. Sedangkan pria setelah kehilangan pasangan hidupnya karena kematian kondisi emosionalnya tidak terlalu berbeda karena karakteristik pria yang tidak suka membuka diri.

Rendahnya social support yang dirasakan oleh lansia juga disebabkan oleh ketidaksiapan lansia tersebut dalam menghadapi masa tua, mereka tidak pernah mempersiapkan hari tua dengan kondisi finansial yang baik. Pada akhirnya mereka sering sekali menghindari untuk menghabiskan waktu yang berkualitas dengan pasangan, anak-anak, teman, dan anggota keluarga yang lain. Sebagian dari mereka merasa bahwa mereka terlalu tua untuk melakukan banyak hal, tanpa disadari membawa dampak kesepian dalam diri. Selain daripada itu, kesibukan anggota keluarga lain juga dapat menjadi penyebab minimnya perhatian terhadap lansia.

Menurut Martin dan Osborn (dalam Rahmi), penyebab umum terjadinya kesepian ada tiga faktor, faktor yang pertama adalah faktor psikologis yaitu harga diri rendah pada lansia disertai dengan munculnya perasaan-perasaan negatif seperti perasaan takut, mengasihani diri sendiri dan berpusat pada diri sendiri. Faktor yang kedua yang mempengaruhi kesepian adalah faktor kebudayaan dan situasional yaitu terjadinya perubahan dalam tata cara hidup dan kultur budaya dimana keluarga yang menjadi basis perawatan bagi lansia kini banyak yang lebih menitipkan lansia ke panti dengan alasan kesibukan dan ketidakmampuan dalam merawat lansia. Faktor yang ketiga adalah faktor spiritual yaitu agama seseorang dapat menghilangkan kecemasan seseorang dan kekosongan spiritual seringkali berakibat kesepian.

 

 

Kesepian pada lansia dipandang unik karena akibatnya akan berdampak pada gangguan kesehatan yang kompleks. Penelitian yang dilakukan oleh Meaghan A. Barlow, dkk menunjukkan bahwa penyakit yang sering diderita lansia akibat kesepian yang berkepanjangan antara lain depresi, tekanan darah tinggi, gangguan tidur, dan gangguan fungsi imun. Penyakit tersebut mengganggu fungsi hidup para lansia sehingga lansia semakin tidak produktif dalam kesehariannya.

Jumlah lansia di Indonesia diperkirakan mencapai 30-40 juta pada tahun 2020 sehingga Indonesia menduduki peringkat ke 3 di seluruh dunia setelah China, India, dan Amerika dalam populasi lansia. Dengan seiring meningkatnya jumlah lansia maka angka kesepian pun semakin semakin besar, diperkirakan 50% lansia kini menderita kesepian. Secara psikologis lansia akan dinyatakan mengalami krisis psikologis ketika mereka menjadi sangat ketergantungan pada orang lain.

Wirartakusuma  memperkirakan angka ketergantungan lansia pada tahun 1995 adalah 6,93% dan tahun 2015 meningkat menjadi 8,7% yang berarti bahwa pada tahun 1995 sebanyak 100 penduduk produktif harus menyokong 7 orang lansia yang berumur 65 tahun keatas sedangkan pada tahun 2015 sebanyak 100 orang penduduk produktif harus menyokong 9 orang lansia yang berumur 65 tahun keatas.

Melihat kondisi di atas tentu kita perlu memikirkan solusi bagaimana menangani loneliness pada lansia di Indonesia, karena para lansia juga membutuhkan kehidupan yang sejahtera dan berbahagia dalam menghabiskan masa tua mereka. Menangani kondisi loneliness pada lansia tidak terlepas dari peranan keluarga, karena keluarga adalah orang-orang yang seharusnya dapat memahami kebutuhan lansia akan kasih sayang, perhatian, dan interaksi sosial. Santrock mengatakan bahwa interaksi sosial berperan penting dalam kehidupan lansia untuk dapat mentoleransi kondisi kesepian yang ada dalam kehidupan sosial lansia tersebut. Interaksi lansia dengan keluarga yang dilakukan secara intens, secara otomatis akan mengurangi resiko loneliness pada lansia.

Arthur Kornhaber menuliskan dalam bukunya tips yang dapat dilakukan untuk menangani kesepian pada lansia, dan juga menjalani kehidupan keluarga yang efektif dengan keberadaan lansia sebagai bagian anggota keluarga yang penting. Beberapa tips tersebut antara lain:

  1. Mengajak orang tua untuk tinggal di rumah anak yang telah berkeluarga, akan menolong lansia memiliki interaksi yang lebih banyak dengan anggota keluarga lain.
  2. Keluarga harus segera mengatasi konflik dengan lansia apabila terdapat konflik internal keluarga, karena lansia cukup sensitif dengan konflik.
  3. Melibatkan orang tua dalam pengambilan keputusan, acara-acara keluarga dan kebersamaan yang dilakukan keluarga. Sehingga lansia tidak merasa sendiri namun mendapatkan dukungan sosial yang ia butuhkan dari keluarga.
  4. Apabila memungkinkan bagi lansia untuk menikah kembali, keluarga sebaiknya memberikan dukungan dengan tujuan lansia mendapatkan perhatian dari pasangan dan dapat dirawat secara intens oleh pasangan.
  5. Melibatkan lansia dalam pengasuhan cucu sehingga interaksi dengan cucu memberikan kebermaknaan hidup bagi para lansia yang kesepian
  6. Keluarga membantu lansia dalam memanajemen keuangan, baik pemasukan maupun pengeluaran lansia. Sehingga keuangan lansia dapat teratur, dan tidak bergantung secara total pada finansial anak.

 

Penelitian yang dilakukan oleh Herliawati,et al menunjukkan bahwa pendekatan spiritual juga memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat penurunan kesepian pada lansia. Herliawati melakukan penelitian kepada para lansia yang kesepian dengan memberikan kegiatan-kegiatan yang merupakan pendekatan spiritualitas, dan dari hasil penelitian ditemukan bahwa sebagian besar lansia yang menjadi subjek penelitian mengalami penurunan tingkat kesepian setelah dilakukan pendekatan spiritual.

Hal ini menunjukkan bahwa para lansia membutuhkan dukungan keluarga dalam hal spiritualitas, sehingga lansia mendapat kesempatan untuk beribadah bersama keluarga. Karena kebanyakan keluarga tidak membawa lansia untuk melakukan ibadah, namun ditinggal sendiri di rumah. Selain ibadah umum sebaiknya lansia juga diarahkan untuk beribadah secara pribadi.

Pemerintah juga memperhatikan lansia dan menawarkan solusi untuk mengurangi kesepian pada lansia dengan  membentuk suatu wadah yang dinamakan panti Werdha atau lebih dikenal dengan nama panti jompo. Pada awalnya panti jompo diperuntukan bagi lansia yang terlantar atau dalam keadaan ekonomi keluarga yang serba kekurangan namun seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan perawatan bagi lansia maka kini berkembang panti-panti berbasis swasta yang umumnya untuk lansia dengan keadaan ekonomi berkecukupan. Dengan adanya panti werdha dengan pelayanan yang memadai, diharapkan para lansia dapat berinteraksi dengan sesama lansia, mendapatkan pelatihan skill baru, sehingga kesepian yanng dialami lansia menurun.

 

DAFTAR PUSTAKA

Amalia, Ayu Diah,”Kesepian dan Isolasi Sosial yang Dialami Lanjut Usia: Tinjauan dari Perspektif Sosiologis, “ Jurnal Informasi, Vol. 18, No. 02 (2013), 203-210.

Barlow, Meaghan A, Sarah Y.Liu, dan Carsten Wrosch, “Chronic Illness and Loneliness in Older Adulthood: The Role of Self-Protective Control Strategies,” Health Psychology, Vol. 34, No. 8 (2015), 870-879.

Herliawati, et al., “Pengaruh Pendekatan Spiritual Terhadap Tingkat Kesepian Pada Lanjut Usia di Panti Sosial Tresna Werdha Warga Tama Kelurahan Timbangan Kecamatan Indralaya Utara” Jurnal MKS, Th. 46, No. 2 (2014), 144-148.

Luhman, Maikedan Louise C. Hawkley, “Age Differences in Loneliness from Late Adolescence to Oldest Old Age,” Developmental Psychology, Vol. 52, No. 6 (2016), 943-959.

Kornhaber, Arthur, The Grandparent Solution: How Parents Can Build a Family Team for Practical, Emotional, and Financial Success (San Fransisko: Jossey-Bass, 2004),163.

Rahmi, “Gambaran Tingkat Kesepian pada Lansia di Panti Tresna Wreda Pandaan,” Psikologi Forum, No. 8 (2015), 257-261.

Redburn, David E. dan Robert P. McNamara, Social Gerontology (Westport: Greenwood Publishing, 1998), 20.

Sanjaya, Agung, ”Hubungan Interaksi Sosial dengan Kesepian pada Lansia,” Jurnal Keperawatan, No 313 (2012), 26-31.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *