Uncategorized

Pentingnya Pemahaman Imago Dei dalam Proses Menjadi Diri Sendiri yang Autentik

Sejak kecil saya sering sekali penasaran dengan isi pikiran dan perasaan orang lain yang sejujurnya, karena dalam interaksi sosial yang saya rasakan, sering sekali kita tidak tidak tampil apa adanya. Selalu berusaha tampil lebih baik, menutupi kekurangan diri, bersifat manipulatif dalam berteman, dan hidup dalam imajinasi karena kehidupan nyata tidak sesuai harapan. Sampai-sampai saya sering berkhayal kalau kacamata minus yang saya gunakan setiap hari memiliki kemampuan untuk menerawang jauh ke dalam pikiran dan perasaan orang lain, supaya lebih nyata dan jujur.

Kita memang hidup di zaman dengan tuntutan hidup yang semakin tinggi yang tidak jarang kita ciptakan sendiri. Era digital tanpa sadar mengajarkan kita untuk bersifat manipulatif, menampilkan diri sebaik-baiknya, menarik perhatian orang lain untuk fokus pada diri kita, dan berlomba-lomba untuk mendapat pengakuan dan pujian. Semakin sulit untuk hidup apa adanya, karena tuntutan pertemanan saat ini pun mulai berbeda dengan yang dulu. Mau tidak mau kita harus mengikuti perkembangan bahkan tidak jarang kita menampilkan diri menjadi seorang sosok ideal yang bukan diri kita.

Siapa diantara kita yang siap jika kehidupannya diketahui secara gamblang oleh orang lain, apa yang Anda pikirkan, rasakan, inginkan, dan apa yang sejujurnya ingin Anda utarakan dapat dibaca dengan jelas? Sebagian besar manusia sedang menuju liang kubur tanpa mengenal siapa dirinya yang sebenarnya. Tanpa sadar, menghidupi kehidupan orang lain atau setidaknya hidup sesuai harapan orang lain bagi kita. Ini sama dengan melakukan kekerasan terhadap diri sendiri, relasi kita dengan Allah, dan akhirnya dengan orang lain. Seberapa banyak orang yang menjalani kehidupan sesuai dengan apa yang ia harapkan dan impikan? Atau lebih dalam lagi, seberapa banyak orang yang menjalani kehidupan sesuai dengan tujuan Allah atas dirinya?

Untuk menjawab kondisi ini kita perlu kembali kepada pemahaman awal bahwa manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah atau bahasa Teologisnya Imago Dei (Imago berarti gambar, Dei berarti Allah). Di dalam Alkitab dituliskan: Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. (Kejadian 1:26-27).

Segambar dan serupa dengan allah menunjukkan bahwa kita bukanlah Allah tetapi kita ciptaan yang dicipta menurut gambar dan rupa Allah. Manusia adalah icon Allah, dimana ada manusia harusnya Allah terlihat disana dengan simbol manusia. Jika manusia di dunia ini mengerjakan representasi Allah maka bumi akan penuh dengan kemuliaan Allah. Anak-anak Tuhan tersebar ke seluruh dunia sehingga kebenaran tersebar, ketika orang melihat kita seharusnya orang melihat Allah.

Gambar Allah memiliki arti keseluruhan diri manusia, Tuhan menciptakan keseluruhan keberadaan manusia sebagai gambar dan rupanya, tidak hanya tubuh, jiwa, tetapi tubuh jiwa dan roh. Dengan demikian tidak ada satupun bagian dari diri manusia yang bukan merupakan gambar Allah. Ada teladan dan pencitraan Allah di dalam diri manusia. Hal ini bicara tentang nilai-nilai etis dan moral yang berada di dalam manusia yang seharusnya sesuai dengan standar Allah sendiri. Bila kita mengatakan bahwa Allah itu kasih, adil dan bertindak benar, maka seharusnya manusia yang adalah gambar dan rupa Allah juga memilikinya. Selain itu, sebagai Imago Dei maka hanya manusialah satu-satunya makhluk hidup ciptaan Allah – di luar para malaikat – yang memiliki relasi atau hubungan dengan Allah secara pribadi. Inilah fitrah kita sebagai manusia.

Apa yang terjadi dengan gambar Allah ketika manusia jatuh ke dalam dosa? Apakah manusia kehilangan gambar dan rupa Allah dalam dirinya? Ternyata tidak, ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, gambar Allah dalam diri manusia tidak hilang tetapi rusak akibat dari hilangnya kualitas spiritual manusia. Kerusakan ini menghasilkan kerusakan pula dalam hubungan manusia dengan Allah, manusia lain, dan alam. Namun kondisi ini tidak dibiarkan begitu saja oleh Allah, Ia memberikan solusi dengan keselamatan dari Kristus.

Merenungkan bagian ini seharusnya memberikan kita kesadaran betapa istimewa dan berharga diri kita di hadapan Tuhan, mendapatkan hak istimewa menjadi wakil Tuhan melalui gambar dan rupaNya. Allah yang kudus dan mulia mau memakai kita manusia berdosa untuk mewakiliki dan merepresentasikan diriNya, bukankah ini sulit untuk dipahami akal manusia?

Jikalau kita masih sering merasa rendah diri dan ingin menjadi diri orang lain, kita juga perlu merenungkan hal ini. Bahwa walaupun sampai hari ini manusia silih berganti mengalami kematian dan kelahiran, uniknya tidak ada satupun manusia yang lahir yang memiliki ciri sama persis dengan orang lain. Setiap orang diciptakan Allah berbeda dan unik, bahkan anak kembar sekalipun pasti memiliki keunikan tersendiri. Tentu Tuhan memiliki tujuan dan maksud yang berbeda-beda pada setiap orang, sehingga kita tidak perlu menjadi orang lain atau berusaha hidup sesuai dengan harapan mereka..

Tuhan memiliki tujuan yang khusus untuk setiap anak-anakNya, bagian kita adalah menemukan kekhususan tujuan Tuhan dan mengerjakannya dengan setia. Ketika kita memiliki pemahaman ini, tentu kita tidak lagi terikut dengan arus perkembangan zaman mengenai suatu kehidupan yang ideal (life goals). Kita akan hidup nyaman dengan mengerjakan panggilan kita sebagai gambar dan rupa Allah, sesuai dengan keberadaan diri kita, yaitu dengan menjadi diri kita yang autentik. Apa maksudnya diri yang autentik? Dalam KBBI autentik memiliki arti dapat dipercaya, asli dan tulen.

Allah menginginkan kita menjadi pribadi yang dapat dipercaya, tidak manipulatif, asli dan tulen sebagaimana adanya Ia menciptakan kita. Ia ingin kita memusatkan diri hanya kepadaNya, sehingga standar hidup kita hanya akan berpusat pada standar Allah dan bukan dunia. Misalnya dalam mengambil keputusan, kita tidak akan memusingkan apa yang orang lain pikirkan lebih daripada apa yang Tuhan pikirkan, sehingga kita lebih merdeka dalam setiap keputusan-keputusan kita. Dalam memilih gaya hidup, kita akan lebih memilih gaya hidup yang sesuai dengan nilai yang diajarkan Alkitab, bukan gaya hidup yang dianggap keren oleh orang lain, dan tentu ini berlaku dalam setiap aspek kehidupan kita.

Sehingga kita tidak akan lelah untuk berusaha memenangkan hati setiap orang melalui apapun yang kita lakukan, karena hidup untuk menyenangkan hati semua orang akan selalu gagal. Mengapa? Akan selalu ada pro dan kontra apapun yang kita lakukan dalam hidup, akan selalu ada pihak yang menerima dan menolak keputusan kita, bahkan sebaik-baiknya kita berusaha hidup sesuai harapan orang lain, akan ada bagian yang dikritik dan dianggap salah. Melelahkan bukan?

Memang hidup sesuai nilai yang diajarkan Alkitab pun tidak akan membuat kita bebas dari penilaian dan pandangan orang lain, bahkan sangat tidak mudah untuk tampil menjadi diri sendiri, ada banyak penolakan yang akan kita terima, pergesekan yang tidak dapat dihindarkan. Sehingga kita kemungkinan akan kembali merasa nyaman dan aman untuk bersembunyi dalam kesempurnaan yang kita ciptakan, menolak untuk mengakui kelemahan dan kekurangan dan berusaha menonjolkan kelebihan diri kita. Tetapi kehidupan yang demikian semakin menyulitkan kita untuk mengenal diri dengan lebih baik dan berpotensi membuat kita kehilangan identitas diri. Kondisi ini tentu saja berdampak pada pengenalan akan kita akan Tuhan.

Jhon Calvin di tahun 1530 menulis dalam pembukaan bukunya Institutes of The Christian Religion: Hikmat kita hampir seluruhnya terdiri dari dua bagian, pengetahuan akan Allah dan akan diri sendiri. Tetapi karena keduanya saling terkait erat, maka tidak mudah menentukan mana yang lebih dulu dan menghasilkan yang lain. Tujuan Allah menciptakan manusia adalah untuk memuliakan Dia, tujuan ini tentu tidak akan tercapai apabila kita tidak mengenal Allah yang menciptakan kita. Lalu harus bagaimana?

Mari memulai dari diri sendiri, dengan mengenal dan menjadi diri kita apa adanya, dengan kelebihan dan kelemahan yang tidak mungkin bisa kita tolak. Bukan berarti kita sedang kompromi dengan kelemahan, namun jadilah diri kita dalam versi yang terbaik. Kita tidak bisa memungkiri masa lalu yang sudah terjadi, kita harus menerimanya sebagai bagian dari hidup yang membentuk kita sampai hari ini. Hidup harus terus berlanjut dan dijalani dengan sebaik-baiknya karena kita adalah gambar Allah. Kenali potensi-potensi terbaik dalam diri kita, kembangkan sebaik mungkin tanpa harus sibuk untuk iri dengan kelebihan dalam diri orang lain.

Kita juga harus memiliki gairah untuk mengenal Allah yang menciptakan kita dengan unik, bergaul dengan Dia melalui pengalaman-pengalaman rohani yang personal dan intim, baik melalui perbincangan pribadi melalui doa-doa, membaca firman Tuhan, pengalaman dalam pelayanan, dan tentu saja melalui kehidupan sehari-hari. Pengenalan akan Allah akan menolong kita untuk mengenal diri dan maksud Allah secara pribadi atas diri kita, sehingga keberanian untuk tampil apa adanya akan semakin kuat.

Kalau kita sudah berhasil berdamai dengan diri, mari mulai menciptakan atmosfir lingkungan yang aman bagi orang lain untuk menjadi dirinya sendiri. Belajar menerima keluarga, teman dan orang lain sebagaimana adanya dirinya, menjadi tempat bercerita yang nyaman tanpa menghakimi, tidak suka mengkritik tanpa tahu situasi dan mendorong orang lain menjadi dirinya versi yang terbaik. Dunia akan lebih ramah dan nyaman apabila manusia di dalamnya tampil sebagaimana dirinya dengan menyadari bahwa setiap orang adalah gambar dan rupa Allah, siapa kita merasa berhak untuk menganggap seorang akan yang lain lebih rendah? Terlihat sangat ideal dan sulit, namun kita bisa memulainya dari lingkungan terdekat kita dengan hal-hal sederhana. Semoga langkah-langkah kecil yang kita mulai dapat dirasakan oleh orang lain dan membawa perubahan yang besar nantinya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *