Uncategorized

Kehidupan Setelah Lahir Baru

Sejak semula Allah menciptakan manusia dengan sebuah tujuan yang besar, lalu kejatuhan manusia ke dalam dosa telah merusak hubungan Allah dengan manusia. Namun Allah tidak tinggal diam, tujuan dan rencana Allah harus terus berjalan. Allah berinisiatif untuk membebaskan manusia dari jerat dosa melalui karya keselamatan oleh Yesus Kristus. Usaha manusia tidak dapat mendamaikan kita dengan Allah, karena kita tidak sanggup untuk mengetahui apa yang Tuhan inginkan, penebusan harus datangnya dari Tuhan.

Setelah manusia dilepas dan ditebus tidak ada lagi yang berhak atas seseorang yang ditebus oleh Allah, sekalipun kita manusia jatuh ke dalam dosa setelah diselamatkan, keselamatan itu tidak akan hilang lagi. Apakah keselamatan tergantung kepada orang yang diselamatkan?  Tentu saja tidak, keselamatan bergantung kepada Tuhan dan rencana Tuhan tidak bisa berubah, sehingga tidak ada yang bisa menggagalkan proses dan hasil dari penebusan. Tidak ada yang bisa melepaskan kita dari kasih Tuhan karena Dia berlari lebih cepat untuk mengejar kita.

Benih iman adalah anugerah (hanya dikerjakan oleh Allah), tetapi pertumbuhan iman menuntut ketaatan manusia untuk semakin rela menyangkal diri, semakin mau melakukan kehendak Allah, semakin melihat semua hal sesuai kehendak Tuhan. Ketika dua orang sama2 bertobat, mereka bisa mengalami pertumbuhan iman yang berbeda, ada yg lebih cepat, ada yg lama. Ini terjadi karena mereka memiliki ketatan dan kemauan bertumbuh yg berbeda. Tuhan memang mengasihi kita apa adanya, tetapi Dia tidak akan membiarkan kita apa adanya. Dalam proses perjalanan iman sebagai seseorang yang telah diselamatkan, Tuhan menuntut kita untuk memiliki kehidupan iman yang progresif, artinya terjadi peningkatan dan pertumbuhan secara terus menerus.

Setelah kita menerima Kristus sebagai Tuhan dan juruselamat pribadi kita, ada hal-hal dalam hidup yang secara otomatis berubah, yaitu status kita di hadapan Allah. Namun ada hal-hal yang tidak langsung berubah, seperti kebiasaan, karakter, kondisi dan permasalahan hidup, masih tetap sama seperti sebelumnya. Pengalaman-pengalaman di masa lalu yang mungkin menyakitkan dan membuat kita terluka pun masih tetap sama dan tidak berubah. Kita memiliki tanggungjawab secara pribadi untuk memperbaiki situasi-situasi ini bersama dengan Allah.

Banyak sekali orang Kristen yang mengalami kelahiran kembali di dalam Kristus yang salah memahami konsep lahir baru. Rasul Paulus menuliskan:” yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (1 Kor 5:17), memang benar ketika kita datang kepada Kristus, semua dosa kita dihapuskan dan kita diberi nama baru, identitas baru, masa depan baru, hidup baru. Itu adalah suatu mujizat, kita dinyatakan benar di hadapan Allah melalui hidup, kematian dan kebangkitan Yesus. Allah alam semesta yang kekal tidak lagi menjadi hakim kita tetapi menjadi Bapa kita, inilah kabar baik dari Injil.

Kita perlu memahami bahwa itu tidak berarti kehidupan masa lalu kita tidak akan terus memiliki pengaruh terhadap kira dalam cara-cara yang berbeda,  masa lalu kita di hadapan Kristus mungkin sangatlah menyakitkan dan kita ingin melupakannya sehingga tidak perlu lagi melihat ke belakang. Hidup kita sudah jauh lebih baik ketika Yesus bersama dengan kita, dan kita sudah bebas dari segala pengaruh masa lalu itu. Namun kita harus menyadari bahwa masa lalu tersebut masih terus menerus mempengaruhi kita hari ini jika tidak dihadapi dan dibereskan bersama Tuhan.

Memang tidak mudah untuk kembali berhadapan dengan pengaruh buruk masa lalu, sering sekali kita berusaha untuk menolaknya dengan mengabaikan dampak-dampak yang muncul di kemudian hari. Kita memiliki pemahaman bahwa kemarahan, kesedihan, ketakutan adalah dosa yang harus dihindari, karena menunjukkan bahwa ada yang salah dengan kehidupan rohani kita. Kita lalu berusaha meyakinkan diri kita dengan keyakinan palsu untuk mengusir semua itu, mengutip ayat Alkitab, menghafalkannya, apapun kita lakukan untuk menjauhkan perasaan-perasaan tersebut. Tanpa disadari kondisi terpenjara dalam perasaan-perasaan seperti itu menyulitkan kita untuk mendengar suara-suara Allah untuk mengevaluasi apa yang terjadi dalam batin kita. Kita harus menyadari bahwa semua perasaan di atas adalah manusiawi dan wajar muncul dalam diri kita, kalau kita terus menolak dan menekannya hanya akan mematikan kemanusiaan dalam diri. Kita boleh menerima perasaan-perasaan yang muncul, namun jangan sekali-sekali mengandalkan perasaan tersebut dalam karena perasaan sering sekali salah.

Hal lain yang juga sering sekali terjadi pada diri seseorang yang lahir baru adalah membagi hidup ke dalam sekat “sekular” dan “sakral”. Sangat mudah membagi Tuhan ke dalam kegiatan Kristen yang terkait dengan gereja dan disiplin rohani tanpa memikirkan Dia dalam pernikahan, ketika mendisiplinkan anak, cara kita menghabiskan uang, rekreasi, dan cara kita memperlakukan orang lain. Survey membuktikan bahwa orang Kristen juga menjalani gaya hidup hedonistik, materialistik, egois, dan seks yang tidak bermoral sama seperti dunia pada umumnya.

Akibat dari semua itu berdampak kepada kesaksian kita akan Yesus Kristus sangatlah besar, baik bagi diri kita maupun lingkungan sekitar kita. Kita melewatkan sukacita hidup yang sejati bersama Yesus Kristus, seperti yang Allah janjikan (Yoh :11). Dan dunia menyaksikan kita dengan gelengan kepala, heran mengapa kita begitu buta dan tidak bisa melihat jurang yang lebar antara perkataan kita dengan kehidupan sehari-hari kita.

Tekanan untuk menampilkan citra diri yang kuat dan harmonis secara rohani juga sering sekali terus menghantui kita semua sebagai orang yang sudah lahir baru. Kita merasa bersalah jika tidak memenuhi standari itu atau tidak mencapainya. Kita lupa bahwa tidak satu pun dari kita yang sempurna dan semua adalah orang yang berdosa. Kita lupa bahwa Daud, salah seorang manusia yang paling dekat dengan Allah, berzinah dengan Betsyeba dan membunuh suaminya. Itu skandal yang sangat besar, tapi Daud tidak mau menghapus kisah kelamnya dari sejarah dunia. Malah ia mencatat dengan sangat detail kegagalan yang ia alami dalam buku sejarah agar generasi di masa depan dapat mengetahuinya. Ia bahkan menuliskan lagu tentang kegagalannya untuk dinyanyikan dalam ibadah orang Israel dan dicatat dalam buku pegangan ibadah mereka yaitu kitab Mazmur.

Alkitab tidak menutupi kelemahan para pahlawannya, Musa seorang pembunuh, istri Hosea seorang pelacur, Petrus menyangkali Tuhan, Nuh mabuk, Yunus seorang rasis, Yakub seorang pembohong, Markus meninggalkan Paulus, Elia kelelahan, Yeremia depresi dan condong untuk bunuh diri, Thomas peragu, Musa pemarah, dan semua orang ini memberi pesan yang sama bahw manusia di bumi, tidak peduli karunia dan kekuatannya , sebenarnya lemah, rapuh, dan bergantung kepada Allah dan sesamanya. Kita semua sama rusaknya, sangat lemah dan tidak berdaya akan kelemahan kita masing-masing. Namun Allah dengan kasih dan anugerahNya terus mau memakai dan menerima kita, untuk terus mengalami pembaharuan di dalam Dia.

Lalu hal apa yang harus kita lakukan sehingga mengalami pertumbuhan yang progresif sebagai seseorang yang telah diselamatkan di dalam Kristus? Dalam melakukan pelayanan maupun disiplin rohani, hendaknya melakukan karena cinta kasih dan keintiman dengan Allah, bukan karena peraturan ataupun perasaan terpaksa. Seribu peraturan tidak dapat menggantikan satu dorongan dari Roh Kudus untuk melakukan yang terbaik bagi Allah. Kita juga harus memberi diri kita untuk dibaharui Roh Kudus dengan menyingkirkan lapisan kepalsuan yang kita kenakan untuk menunjukkan diri kita yang autentik yang telah ditanamkan Tuhan dalam diri kita.

Roh kudus telah diberikan untuk memampukan kita agar bisa membebaskan diri kita yang sebenarnya dalam Kristus. Melalui anugerah Allah, kita bisa menjadi manusia paling merdeka di bumi. Maka yang menjadi masalah adalah bagaimana kita membuka semua kepalsuan dan mengijinkan diri kita yang sebenarnya dalam Kristus bisa muncul.dengan pertolongan Roh Kudus memurnikan diri kita, maka pertumbuhan di dalam Tuhan dapat kita nikmati karena kita lebih siap dalam menerima pengajaran juga hubungan yang lebih intim dengan Tuhan. Karena tidak ada lagi penghalang berupa kepalsuan diri yang selama ini mencengkeram diri kita untuk membangun spiritualitas yang juga palsu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *